Paduan Suara Mars DBKS

Paduan Suara Mars DBKS Desa Maguwoharjo Kecamatan Depok sedang menyayikan Mars DBKS dalam acara evaluasi lomba DBKS Tingkat Kabupaten Sleman.

Tamu Undangan Muspika Depok

Tamu undangan dari unsur Muspika kecamatan Depok sedang menghadiri acara evaluasi loma DBKS Desa Maguwoharjo tingkat kabupaten Sleman

Bimbingan Manasik Haji

H. Muhammad Chaeruddin sedang memberikan penjelasan dan materi dalam rangka manasik haji kecamatan Depok kabupaten Sleman

Praktik Manasik Haji

Para jamaah calon haji kecamatan Depok sedang melaksanakan praktik manasik haji untuk menyempurnakan materi yang diterima secara teoretis

Administrasi Manasik Haji

Untuk mewujudkan pelaksanaan bimbingan manasik haji di Tingkat Kecamatan Depok, harus ditunjang dengan administrasi yang efektif dan efiesien

Minggu, 01 April 2012

Kajian Hadits Arbain An-Nawawiyahn On line


KAJIAN HADITS ARBA’IN AN-NAWAWIYAH
Disajikan oleh : H Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud

Pada kajian yang lalu telah disampaikan kajian tentang keikhlasan dalam berniat karena niat menjadi penentu diterima tidaknya amal seorang hamba. Niat itu harus ikhlas itu judul kajian yang lalu. Setiap amal sangat tergantung dengan niat, dan niat sangat dipengaruhi oleh apa yang ada di dalam hati.Oleh karena itulah setiap akan melaksanakan amal wajib diawali dengan niat yang benar agar apa yang dilaksanakannya mendapat nilai di sisi Allah. Dan niat ini pula yang akan menentukan sukses tidaknya seorang hamba dalam melaksanakan pokok-pokok ajaran Islam yang membawanya kepada kesejahteraan dan kebahagiaan hidup ketika di dunia dan juga yang akan mengantarkannya mencapai kebahagiaan dan kemuliaan hidup di akhirat. Pokok-pokok ajaran Islam inilah yang akan disajikan pada kajian kedua dari Hadits Arba’in An-Nawawiyah kali ini. Inilah haditsnya.
HADITS KEDUA
POKOK-POKOK AJARAN ISLAM
عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ . [رواه مسلم]
Kosa kata /مفردات :
طلع : Terbit / datang العراة (العاري) : telanjang
أسند : Menyandarkan رعاء (راعي) : Penggembala
كفَّيه (كف) : Kedua telapak tangan يتطاولون : saling meninggikan
فخذيه (فخذ) : Kedua pahanya انظلق : Berangkat / Bertolak
ركبتيه (ركبة) : Kedua lututnya أثر : Bekas
الحُفاة (الحافي) : telanjang kaki أمارات (أمارة) : tanda-tanda
Arti hadits / ترجمة الحديث :

Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah  suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah  ) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah (tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“. Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata: “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda: “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “. (Riwayat Muslim)
Catatan :
• Hadits ini merupakan hadits yang sangat dalam maknanya, karena didalamnya terdapat pokok-pokok ajaran Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan, yang harus menjadi acuan umat manusia dalam menjalani hidup dan kehidupan agar mencapai kebahagiaan hidup yang hakiki baik di dunia maupun di akhirat kelak.
• Hadits ini mengandung makna yang sangat agung karena berasal dari dua makhluk Allah yang terpercaya, yaitu: Amiinussamaa’ (kepercayaan makhluk di langit yakni Jibril) dan Amiinul Ardh (kepercayaan makhluk di bumi yakni Nabi Muhammad SAW, Rasulullah Al-Amin)
• Hadits ini memberikan gambaran nyata betapa pentingnya halaqah (berkumpul dalam satu majlis) untuk membahas berbagai persoalan hidup, termasuk diantaranya membahas persoalan hidup dan kehidupan dalam hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Dan halaqah ini akan menjadi hidup dan bermakna jika ada tokoh yang menjadi nara sumber atau tempat rujukan dari berbagai persoalan yang ingin diketahuinya.
• Hadits inipun memberikan gambaran tentang pentingnya etika dan sopan santun sebagai bagian dari akhlakul karimah dalam pergaulan hidup manusia.
Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :
1. Disunnahkan untuk memperhatikan kondisi pakaian, penampilan dan kebersihan, khususnya jika menghadapi ulama, orang-orang mulia dan penguasa.
2. Siapa yang menghadiri majlis ilmu dan menangkap bahwa orang–orang yang hadir butuh untuk mengetahui suatu masalah dan tidak ada seorangpun yang bertanya, maka wajib baginya bertanya tentang hal tersebut meskipun dia mengetahuinya agar peserta yang hadir dapat mengambil manfaat darinya.
3. Jika seseorang yang ditanya tentang sesuatu maka tidak ada cela baginya untuk berkata: “Saya tidak tahu“, dan hal tersebut tidak mengurangi kedudukannya.
4. Kemungkinan malaikat tampil dalam wujud manusia.
5. Termasuk tanda hari kiamat adalah banyaknya pembangkangan terhadap kedua orang tua. Sehingga anak-anak memperlakukan kedua orang tuanya sebagaimana seorang tuan memperlakukan hambanya.
6. Tidak disukainya mendirikan bangunan yang tinggi dan membaguskannya sepanjang tidak ada kebutuhan.
7. Didalamnya terdapat dalil bahwa perkara ghaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala.
8. Didalamnya terdapat keterangan tentang adab dan cara duduk dalam majlis ilmu.

Tema-tema hadits / موضوعات الحديث :

1. Iman : QS.2 : 285, QS.5 : 5, QS.6 : 82 dll.
2. Islam : QS.2 : 112, QS.4 : 125, QS.72 : 14, QS.40 : 66, QS.3 : 19, QS.5 : 3
3. Ihsan : QS.18 : 30, QS.28 : 77, QS.17 : 7, QS.5 : 93
4. Hari akhir : QS.7 : 187, QS.22 : 7, QS.31 : 34 .
5. Ilmu ghaib hanya Allah yang mengetahui : QS.2 : 3, QS.27:65, QS.6 : 50, QS.7 : 188
6. Belajar & mengajarkan Islam : QS.16:43, QS.21:7, QS.3:79, QS.9:122

Kamis, 15 Maret 2012

Kajian Hadits Arbain An-Nawawiyahn On line


KAJIAN HADITS ARBA’IN AN-NAWAWIYAH.
Disajikan oleh : H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud.

PENGANTAR KATA.
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Rasulullah SAW. Sangat memperhatikan kelangsungan ummat-nya dimasa setelah baginda Rasul itu wafat, karena itulah baginda Rasul telah berpesan kepada ummat-nya dengan pesan yang sudah masyhur, sebagaimana sabdanya :
تَرَكْتُ فِيْكُمْ اَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا اَبَدًا اِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُوْلِهِ
Artinya: “Aku tinggalkan dua perkara kepada kalian, (yang) kalian tidak akan (pernah) tersesat selamanya, selama kalian (senantiasa) berpegang teguh keduanya; yakni KITABULLAH (Kitab Suci Al-Qur’an) dan SUNNAH (Hadits-hadits) Rasul-Nya (Rasulullah Muhammad SAW)".

Hadits di atas memberikan penjelasan kepada setiap umat Muhammad bahwa selama umat Muhammad senantiasa mau berpegang kepada Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnah (Hadits-hadits) Rasulullah, niscaya mereka tidak akan pernah tersesat. Berangkat dari hal itulah maka perlu kiranya ada kajian on line dari salah satu pedoman hidup manusia yakni kajian hadits. Dalam sajian ini akan disajikan secara bersambung kajian on lain HADITS ARBA’IN AN-NAWAWIYAH. Semoga kiranya berkenan di hati dan dapat memberikan manfaat yang besar bagi pencerahan hati menuju keistiqamahan kaetaqwaan kepada Allah SWT. Berikut ini disajikan hadits pertama sebagai berikut :

HADITS PERTAMA
Niat itu harus IKHLASH

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .
[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]
Kosa kata / مفردات :
الأعمال (العمل) : Perbuatan امرء : Seseorang
نوى : (Dia) niatkan امرأة : seorang wanita

Arti Hadits / ترجمة الحديث :
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah  bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan 1) tergantung niatnya 2). Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas)berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya 3) karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. (Hadits Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kita Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .

Catatan dari matan hadits :
  1. Hadits ini merupakan salah satu dari hadits-hadits yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam syafi’i berkata : Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu dari ketiganya. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa dia berkata : Hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata : Hadits ini merupakan sepertiga Islam.
  2. Hadits ini ada sebabnya, yaitu: ada seseorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan untuk dapat menikahi seorang wanita yang konon bernama : “Ummu Qais” bukan untuk mendapatkan keutamaan hijrah. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).

Catatan kaki :
  1. Yang dimaksud perbuatan disini adalah amal ibadah yang membu-tuhkan niat. Adapun perbuatan buruk niat baiknya tidak akan merubah buruknya menjadi baik.
  2. Niat adalah keinginan dan kehendak hati. Ada yang mendifisikan Niat adalah berkehendak untuk melakukan sesuatu yang (segera) diikuti dengan melaksanakan kehendak itu.
  3. Hijrah secara bahasa artinya : meninggalkan, sedangkan menurut syariat artinya : meninggalkan negri kafir menuju negri Islam dengan maksud menyelamatkan agamanya. Yang dimaksud dalam hadits ini adalah perpindahan dari Mekkah ke Madinah sebelum Fathu Makkah (Penaklukan kota Mekkah th. 8 H).

Pelajaran yang terdapat dalam Hadits / الفوائد من الحديث :
  1. Niat merupakan syarat layak/diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah ta’ala).
  2. Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati.
  3. Ikhlas dan membebaskan niat semata-mata karena Allah ta’ala dituntut pada semua amal shaleh dan ibadah.
  4. Seorang mu’min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya.
  5. Semua pebuatan yang bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhoan Allah maka dia akan bernilai ibadah.
  6. Yang membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan/rutinitas) adalah niat.
  7. Niat karena Allah itulah yang disebut Ikhlas. Niat ketika melaksanakan sesuatu perbuatan atau ibadah yang tidak dilandasi keikhlasan tidak akan dinilai oleh Allah, karena semua amal ibadah atau perbuatan yang ditumpangi oleh keinginan lain selain Allah termasuk “syirkun niyyah” atau syirik dalam hal niat. Karena itu semua perbuatan atau ibadah mutlak hanya boleh diniati ikhlas karena Allah.
Adapun IKHLAS dapat di katagorikan dalam tiga tingkatan yakni:
  • IKHLASHUL’AABIDIIN : yakni ikhlas-nya orang yang ahli ibadah, maksudnya adalah keikhlasan hati yang ada di dalam dadanya adalah karena menginginkan pahala dari Allah atas perbuatan atau ibadah yang dilaksanakannya dan sekaligus dengan ibadah itu pula ingin selamat dari adzab Allah. Ikhlas semacam ini adalah ikhlas tingkatan paling bawah.
  • IKHLASHUL’MUHIBBIN: yakni ikhlas-nya orang yang mencintai Allah karena ia merasa bahwa Allah sangat mencintainya. Ia beribadah buka semata-mata karena ingin mendapatkan pahala dan selamat dari adzab Allah karena ia sudah memiliki keyakinan bahwa apabila ia telah melaksanakan ibadah (perintah Allah dan Rasul-Nya) maka Allah pasti akan memperhitungkannya nanti dan ia juga yakin bahwa Allah itu tidak akan mengingkari janji-Nya. Ikhlas semacam ini adalah ikhlas tingkatan kedua.
  • IKHLASHUL’AARIFIIN: yakni ikhlas-nya orang yang menyadari bahwa apa yang dimiliki dan apa yang ada padanya adalah karunia Allah yang dianugerahkan kepadanya untuk dimanfaatkan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dengan demikian maka orang yang memiliki ikhlas semacam ini merasa bahwa ia bisa beribadah karena Allah telah memberinya sarana dan prasarana. Dengan kata lain orang yang memiliki tingkatan IKHLASHUL’AARIFIIN, ibadah yang dilakukannya dalam rangka mensyukuri nikmat yang telah diterimanya dari Allah, karena ia merasa bahwa ia tidak akan bisa beribadah apapun bentuknya jika Allah tidak memberikan sarana sebelumnya. Ikhlas semacam inilah yang merupakan ikhlas tingkatan paling tinggi.
8. Hadits diatas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.

Tema-tema hadits / موضوعات الحديث
1. Niat dan keikhlasan
2. Hijrah
3. Fitnah dunia

Senin, 30 Januari 2012

15 PETUNJUK MENGUATKAN IMAN


15 PETUNJUK MENGUATKAN IMAN
Disajikan oleh : H Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud

Tak seorangpun bisa menjamin dirinya akan tetap terus berada dalam keimanan sehingga meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Untuk itu kita perlu merawat bahkan senantiasa berusaha menguatkan keimanan kita. Tulisan ini insya'allah membantu kita dalam usaha mulia itu.
Tsabat (kekuatan keteguhan iman)
Adalah tuntutan asasi setiap muslim. Karena itu tema ini penting dibahas. Ada beberapa alasan mengapa tema ini begitu sangat perlu mendapat perhatian serius.
• Pertama, pada zaman ini kaum muslimin hidup di tengah berbagai macam fitnah, syahwat dan syubhat dan hal-hal itu sangat berpotensi menggerogoti iman. Maka kekuatan iman merupakan kebutuhan muthlak, bahkan lebih dibutuhkan dibanding pada masa generasi sahabat, karena kerusakan manusia di segala bidang telah menjadi fenomena umum.
• Kedua, banyak terjadi pemurtadan dan konversi (perpindahan) agama. Jika pada awal kemerdekaan jumlah umat Islam di Indonesia mencapai 90 % maka saat ini jumlah itu telah berkurang hampir 5%. Ini tentu menimbulkan kekhawatiran mendalam. Untuk menga-tasinya diperlukan jalan keluar, sehingga setiap muslim tetap memiliki kekuatan iman.
• Ketiga, pembahasan masalah tsabat berkait erat dengan masalah hati. Padahal Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: "Dinamakan hati karena ia (selalu) berbolak-balik. Perumpamaan hati itu bagaikan bulu yang ada di pucuk pohon yang diombang-ambingkan oleh angin." (HR. Ahmad, Shahihul Jami' no. 2361)
Maka, mengukuhkan hati yang senantiasa berbolak-balik itu dibutuhkan usaha keras, agar hati tetap teguh dalam keimanan. Dan sungguh Allah Maha Rahman dan Rahim kepada hambaNya. Melalui Al Qur'an dan Sunnah RasulNya Ia memberikan petunjuk bagaimana cara mencapai tsabat. Berikut ini penjelasan 15 petunjuk berdasarkan Al Qur'an dan Sunnah untuk memelihara kekuatan dan keteguhan iman kita.

1. Akrab dengan Al Qur'an
Al Qur'an merupakan petunjuk utama mencapai tsabat. Al Qur'an adalah tali penghubung yang amat kokoh antara hamba dengan Rabbnya. Siapa akrab dan berpegang teguh dengan Al Qur'an niscaya Allah memeliharanya; siapa mengikuti Al Qur'an, niscaya Allah menyelamatkannya; dan siapa yang mendakwahkan Al Qur'an, niscaya Allah menunjukinya ke jalan yang lurus.
Dalam hal ini Allah berfirman:
وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلاَ نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْأَنَ جُمْلَةً وَاحِدَةً , كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيْلاً
"Dan orang-orang kafir berkata, mengapa Al Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja? Demikianlah, agar supaya Kami teguhkan hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar). Dan mereka (orang-orang kafir) tidak datang kepadamu (membawa) sesuatu yang aneh, melainkan Kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang paling baik". (Al Furqan: 32-33)
Beberapa alasan mengapa Al Qur'an dijadikan sebagai sumber utama mencapai tsabat adalah:
• Pertama, Al Qur'an menanamkan keimanan dan mensucikan jiwa seseorang, karena melalui Al Qur'an, hubungan kepada Allah menjadi sangat dekat.
• Kedua, ayat-ayat Al Qur'an diturunkan sebagai penentram hati, menjadi penyejuk dan penyelamat hati orang beriman sekaligus benteng dari hempasan berbagai badai fitnah.
• Ketiga, Al Qur'an menunjukkan konsepsi serta nilai-nilai yang dijamin kebenarannya. Karena itu, seorang mukmin akan menjadikan Al Qur'an sebagai ukuran kebenaran.
• Keempat, Al Qur'an menjawab berbagai tuduhan orang-orang kafir, munafik dan musuh Islam lainnya. Seperti ketika orang-orang musyrik berkata, Muhammad ditinggalkan Rabbnya, maka turunlah ayat: "Rabbmu tidaklah meninggalkan kamu dan tidak (pula) benci kepadamu." (Adl Dluha: 3) (Syarh Nawawi,12/156) Orang yang akrab dengan Al Qur'an akan menyandarkan semua perihalnya kepada Al Qur'an dan tidak kepada perkataan manusia. Maka, betapa agung sekiranya penuntut ilmu dalam segala disiplinnya menjadikan Al Qur'an berikut tafsirnya sebagai obyek utama kegiatannya menuntut ilmu.

2. Iltizam (komitmen) terhadap syari'at Allah
Allah SWT. berfirman:
يُثَبِّتُ الله ُالَّذِيْنَ أَمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيَوْةِ الدُّنْيَا وَفِى الأَخِرَةِ , وَيُضِلُّ الله الظَّالِمِيْنَ , وَيَفْعَلُ الله ُمَا يَشَاءُ
"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akherat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim. Dan Allah berbuat apa saja yang Ia kehendaki." (Ibrahim: 27)
Di ayat lain Allah menjelaskan jalan mencapai tsabat yang dimaksud.
وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوْا مَا يُوْعَظُوْنَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيْتًا
"Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih meneguhkan (hati mereka di atas kebenaran)." (An Nisa': 66)
Karena itu, menjelaskan surat Ibrahim di atas Qatadah berkata:-"Adapun dalam kehidupan di dunia, Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan kebaikan dan amal shalih sedang yang dimaksud dengan kehidupan akherat adalah alam kubur." (Ibnu Katsir: IV/421)
Maka jelas sekali, sangat mustahil orang-orang yang malas berbuat kebaikan dan amal shaleh diharapkan memiliki keteguhan iman. Karena itu, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam senantiasa melakukan amal shaleh secara kontinyu, sekalipun amalan itu sedikit, demikian pula halnya dengan para sahabat. Komitmen untuk senantiasa menjalankan syariat Islam akan membentuk kepribadian yang tangguh, dan iman pun menjadi teguh.

3. Mempelajari Kisah Para Nabi
Mempelajari kisah dan sejarah itu penting. Apatah lagi sejarah para Nabi. Ia bahkan bisa menguatkan iman seseorang. Secara khusus Allah menyinggung masalah ini dalam firman-Nya:
وَكُلاًّ نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَآءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَآءَكَ فِى هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةً وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِيْنَ
"Dan Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) semua kisah para rasul itu, agar dengannya Kami teguhkan hatimu; dan di dalam kisah itu telah datang kepadamu kebenaran , pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman." (Hud: 120)
Sebagai contoh, marilah kita renungkan kisah Ibrahim Alaihis Salam yang diberitakan dalam Al Qur'an:
قَالُوْا حَرِّقُوْهُ وَانْصُرُوْا أَلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِيْنَ . قُلْنَا يَا نَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَسَلاَمًا عَلَى إِبْرَاهِيْمَ . وَأَرَادُوْا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الأَخْسَرين.
"Mereka berkata, bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak. Kami berfirman, hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim. Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim maka Kami jadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi." (Al Anbiya': 68-70)
Bukankah hati kita akan bergetar saat merenungi kronologi pembakaran nabi Ibrahim sehingga ia selamat atas izin Allah? Dan bukankah dengan demikian akan membuahkan keteguh-an iman kita? Lalu, kisah nabi Musa Alaihis Salam yang tegar menghadapi kezhaliman Fir'aun demi menegakkan agama Allah. Bukankah kisah itu mengingatkan kekerdilan jiwa kita dibanding dengan nabi Musa?
Tak sedikit umat Islam sudah merasa tak punya jalan karena kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan misalnya, sehingga mau saja saat diajak kolusi dan berbagai praktek syubhat lain oleh koleganya. Lalu mereka mencari-cari alasan mengabsahkan tindakannya yang keliru.
Dan bukankah karena takut gertakan penguasa yang tiranik lalu banyak di antara umat Islam (termasuk ulamanya) yang menjadi tuli, buta dan bisu sehingga tidak melakukan amar ma'ruf nahi mungkar? Bahkan sebaliknya malah bergabung dan bersekongkol serta melegitimasi status quo (menganggap yang ada sudah baik dan tak perlu diubah). Bukankah dengan mempelajari kisah-kisah Nabi yang penuh dengan perjuangan menegakkan dan meneguhkan iman itu kita menjadi malu kepada diri sendiri dan kepada Allah? Kita mengharap Surga tetapi banyak hal dari perilaku kita yang menjauhinya. Mudah-mudahan Allah menunjuki kita ke jalan yang diridhaiNya.

4. Berdo'a
Di antara sifat hamba-hamba Allah yang beriman adalah mereka memohon kepada Allah agar diberi keteguhan iman, seperti do'a yang tertulis dalam firmanNya:
رَبَّنَا لاَ تُزِغُ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهْبَ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً , إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
" Ya Rabb, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami." (Ali Imran: 8)
رَبِّنَا أَفْرِغُ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ
"Ya Rabb kami, berilah kesabaran atas diri kami dan teguhkanlah pendirian kami serta tolonglah kami dari orang-orang kafir." (Al Baqarah: 250)
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda : "Sesungguhnya seluruh hati Bani Adam terdapat di antara dua jari dari jemari Ar Rahman (Allah), bagaikan satu hati yang dapat Dia palingkan ke mana saja Dia kehendaki." (HR. Muslim dan Ahmad)
Agar hati tetap teguh maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam banyak memanjatkan do'a berikut ini terutama pada waktu duduk takhiyat akhir dalam shalat.
"Wahai (Allah) yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada din-Mu." (HR. Turmudzi)
Banyak lagi do'a-do'a lain tuntunan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam agar kita mendapat keteguhan iman. Mudah-mudahan kita senantiasa tergerak hati untuk berdo'a utamanya agar iman kita diteguhkan saat menghadapi berbagai ujian kehidupan.

5. Dzikir kepada Allah
Dzikir kepada Allah merupakan amalan yang paling ampuh untuk mencapai tsabat. Karena pentingnya amalan dzikir maka Allah memadukan antara dzikir dan jihad, sebagaimana tersebut dalam firmanNya:
يَا أَ يُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْآ إِذَا لَقِيْتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوْا وَاذْكُرُوا الله َكَثِيْرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
"Hai orang-orang yang beriman, bila kamu memerangi pasukan (musuh) maka berteguh-hatilah kamu dan dzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya." (Al Anfal: 45)
Dalam ayat tersebut, Allah menjadikan dzikrullah sebagai amalan yang amat baik untuk mencapai tsabat dalam jihad. Ingatlah Yusuf Alaihis Salam ! Dengan apa ia memohon bantuan untuk mencapai tsabat ketika menghadapi fitnah rayuan seorang wanita cantik dan berkedudukan tinggi? Bukankah dia berlindung dengan kalimat ma'adzallah (aku berlindung kepada Allah), lantas gejolak syahwatnya reda? Demikianlah pengaruh dzikrullah dalam memberikan keteguhan iman kepada orang-orang yang beriman.

6. Menempuh Jalan Lurus
Allah SWT. berfirman:
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِى مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ , وَلاَ تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ عَنْ سَبِيْلِهِ , ذَلِكَ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
"Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia dan jangan mengikuti jalan-jalan (lain) sehingga menceraiberaikan kamu dari jalanNya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertaqwa". (Al An'am: 153)
Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mensinyalir bahwa umatnya bakal terpecah-belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk Neraka kecuali hanya satu golongan yang selamat (HR. Ahmad, hasan)
Dari sini kita mengetahui, tidak setiap orang yang mengaku muslim mesti berada di jalan yang benar. Rentang waktu 14 abad dari datangnya Islam cukup banyak membuat terkotak-kotaknya pemahaman keagamaan. Lalu, jalan manakah yang selamat dan benar itu? Dan, pemahaman siapakah yang mesti kita ikuti dalam praktek keberaga-maan kita? Berdasarkan banyak keterangan ayat dan hadits , jalan yang benar dan selamat itu adalah jalan Allah dan RasulNya. Sedangkan pemahaman agama yang autentik kebenarannya adalah pemahaman berdasarkan keterangan Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada para sahabatnya. (HR. Turmudzi, hasan).
Itulah yang mesti kita ikuti, tidak penafsiran-penafsiran agama berdasarkan akal manusia yang tingkat kedalaman dan kecerdasannya maje-muk dan terbatas. Tradisi pemahaman itu selanjutnya dirawat oleh para tabi'in dan para imam shalihin. Paham keagamaan inilah yang dalam terminologi (istilah) Islam selanjutnya dikenal dengan paham Ahlus Sunnah wal Jamaah . Atau sebagian menyebutnya dengan pemahaman para salafus shalih.
Orang yang telah mengikuti paham Ahlus Sunnah wal Jamaah akan tegar dalam menghadapi berbagai keanekaragaman paham, sebab mereka telah yakin akan kebenaran yang diikutinya. Berbeda dengan orang yang berada di luar Ahlus Sunnah wal Jamaah, mereka akan senantiasa bingung dan ragu. Berpindah dari suatu lingkungan sesat ke lingkungan bid'ah, dari filsafat ke ilmu kalam, dari mu'tazilah ke ahli tahrif, dari ahli ta'wil ke murji'ah, dari thariqat yang satu ke thariqat yang lain dan seterusnya. Di sinilah pentingnya kita berpegang teguh dengan manhaj (jalan) yang benar sehingga iman kita akan tetap kuat dalam situasi apapun.

7. Menjalani Tarbiyah
Tarbiyah (pendidikan) yang semestinya dilalui oleh setiap muslim cukup banyak. Paling tidak ada empat macam tarbiyah, yakni :
a. Tarbiyah Imaniyah , yaitu pendidikan untuk menghidupkan hati agar memiliki rasa khauf (takut), raja' (pengharapan) dan mahabbah (kecintaan) kepada Allah serta untuk menghi-langkan kekeringan hati yang disebabkan oleh jauhnya dari Al Qur'an dan Sunnah.
b. Tarbiyah Ilmiyah, yaitu pendidikan keilmuan berdasarkan dalil yang benar dan menghindari taqlid buta yang tercela.
c. Tarbiyah Wa'iyah, yaitu pendidikan untuk mempelajari siasat orang-orang jahat, langkah dan strategi musuh Islam serta fakta dari berbagai peristiwa yang terjadi berdasarkan ilmu dan pemahaman yang benar.
d. Tarbiyah Mutadarrijah, yaitu pendidikan bertahap, yang membimbing seorang muslim setingkat demi setingkat menuju kesempurnaannya, dengan program dan perencanaan yang matang. Bukan tarbiyah yang dilakukan dengan terburu-buru dan asal jalan.
Itulah beberapa tarbiyah yang diberikan Rasul kepada para sahabatnya. Berbagai tarbiyah itu menjadikan para sahabat memiliki iman baja, bahkan membentuk mereka menjadi generasi terbaik sepanjang masa.

8. Meyakini Jalan yang Ditempuh
Tak dipungkiri bahwa seorang muslim yang bertambah keyakinannya terhadap jalan yang ditempuh yaitu ”Ahlus Sunnah wal Jama’ah” maka bertambah pula tsabat (keteguhan iman) nya. Adapun di antara usaha yang dapat kita lakukan untuk mencapai keyakinan kokoh terhadap jalan hidup yang kita tempuh adalah:
• Pertama, kita harus yakin bahwa jalan lurus yang kita tempuh itu adalah jalan para nabi, shiddiqien, ulama, syuhada dan orang-orang shalih.
• Kedua, kita harus merasa sebagai orang-orang terpilih karena kebenaran yang kita pegang, sebagaimana firman Allah:
اَلْحَمْدُ للهِ وَسَلاَمٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفَى , ءَآلله ُخَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُوْنَ
"Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hambaNya yang Ia pilih." (QS. 27: 59).
Bagaimana perasaan kita seandainya Allah menciptakan kita sebagai benda mati, binatang, orang kafir, penyeru bid'ah, orang fasik, orang Islam yang tidak mau berdakwah atau da'i yang sesat? Mudah-mudahan kita berada dalam keyakinan yang benar yakni sebagai ”Ahlus Sunnah wal Jamaah” yang sesungguhnya.

9. Berdakwah
Jika tidak digerakkan, jiwa seseorang tentu akan rusak. Untuk menggerakkan jiwa maka perlu dicarikan medan yang tepat. Di antara medan pergerakan yang paling agung adalah berdakwah. Dan berdakwah merupakan tugas para rasul untuk membebaskan manusia dari adzab Allah. Maka tidak benar jika dikatakan, fulan itu tidak ada perubahan. Jiwa manusia, bila tidak disibukkan oleh ketaatan maka dapat dipastikan akan disibukkan oleh kemaksiatan. Sebab, iman itu bisa bertambah dan berkurang. Jika seorang da'i menghadapi berbagai tantangan dari ahlul bathil dalam perjalanan dakwahnya, tetapi ia tetap terus berdakwah maka Allah akan semakin menambah dan mengokohkan keimanannya.

10. Dekat dengan Ulama
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :"Di antara manusia ada orang-orang yang menjadi kunci kebaikan dan penutup kejahatan." (HR. Ibnu Majah, no. 237, hasan) Senantiasa bergaul dengan ulama akan semakin menguatkan iman seseorang. Tercatat dalam sejarah bahwa berbagai fitnah telah terjadi dan menimpa kaum muslimin, lalu Allah meneguhkan iman kaum muslimin melalui ulama. Di antaranya seperti diutarakan Ali bin Al Madini Rahimahullah: "Di hari riddah (pemurtadan) Allah telah memuliakan din ini dengan Abu Bakar dan di hari mihnah (ujian) dengan Imam Ahmad."Bila mengalami kegundahan dan problem yang dahsyat Ibnul Qayyim mendatangi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah untuk mendengarkan berbagai nasehatnya. Sertamerta kegundahannya pun hilang berganti dengan kelapangan dan keteguhan iman ( Al Wabilush Shaib, hal. 97).

10. Meyakini Pertolongan Allah
Mungkin pernah terjadi, seseorang tertimpa musibah dan meminta pertolongan Allah, tetapi pertolongan yang ditunggu-tunggu itu tidak kunjung datang, bahkan yang dialaminya hanya bencana dan ujian. Dalam keadaan seperti ini manusia banyak membutuh-kan tsabat agar tidak berputus asa.
Allah berfirman :
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوْتَ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ كِتَابًا مُؤَجَّلاً, وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا, وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الأَخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا, وَسَنَجْزِى الشَّاكِرِيْنَ . وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّوْنَ كَثِيْرٌ, فَمَا وَهَنُوْا لِمَا أَصَابَهُمْ فِى سَبِيْلِ اللهِ وَمَا ضَعُفُوْا وَمَااسْتَكَانُوْا, وَالله ُيُحِبُّ الصَّابِرِيْنَ . وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلاَّ أَنْ قَالُوْا رَبَّنَااغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِى أَمْرِنَا وَ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. فَأَتَاهُمُ الله ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابَ الأَخِرَةِ. وَالله ُيُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
"Dan berapa banyak nabi yang berperang yang diikuti oleh sejumlah besar pengikutnya yang bertaqwa, mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do'a mereka selain ucapan, Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami. Tetapkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan". (Ali Imran: 146-148)

12. Mengetahui Hakekat Kebatilan
Allah berfirman:
لاَ يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِى الْبِلاَدِ
"Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir yang bergerak dalam negeri ." (Ali Imran: 196)
وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الأَيَاتِ وَلَتَسْتَبِيْنَ سَبِيْلَ الْمُجْرِمِيْنَ
"Dan demikianlah Kami terang-kan ayat-ayat Al Qur'an (supaya jelas jalan orang-orang shaleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berbuat jahat (musuh-musuh Islam)." (Al An'am: 55)
وَقُلْ جَآءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ, إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا
"Dan Katakanlah, yang benar telah datang dan yang batil telah sirna, sesungguhnya yang batil itu pastilah lenyap." (Al Isra': 81)
Berbagai keterangan ayat di atas sungguh menentramkan hati setiap orang beriman. Mengetahui bahwa kebatilan akan sirna dan kebenaran akan menang akan mengukuhkan seseorang untuk tetap teguh berada dalam keimanannya.

13. Memiliki Akhlak Pendukung Tsabat.
Akhlak pendukung tsabat yang utama adalah sabar. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam : "Tidak ada suatu pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran." (HR. Al Bukhari dan Muslim) Tanpa kesabaran iman yang kita miliki akan mudah terombang-ambingkan oleh berbagai musibah dan ujian. Karena itu, sabar termasuk senjata utama mencapai tsabat.

14. Nasehat Orang Shalih
Nasehat para shalihin sungguh amat penting artinya bagi keteguhan iman. Karena itu, dalam segala tindakan yang akan kita lakukan hendaklah kita sering-sering meminta nasehat mereka. Kita perlu meminta nasehat orang-orang shalih saat mengalami berbagai ujian, saat diberi jabatan, saat mendapat rezki yang banyak dan lain-lain. Bahkan seorang sekaliber Imam Ahmad pun, beliau masih perlu mendapat nasehat saat menghadapi ujian berat oleh intimidasi penguasa yang tiranik. Bagaimana pula halnya dengan kita?

15. Merenungi Nikmatnya Surga
Surga adalah tempat yang penuh dengan kenikmatan, kegembiraan dan suka-cita. Ke sanalah tujuan pengembaraan kaum muslimin. Orang yang meyakini adanya pahala dan Surga niscaya akan mudah menghadapi berbagai kesulitan. Mudah pula baginya untuk tetap tsabat dalam keteguhan dan kekuatan imannya.
Dalam meneguhkan iman para sahabat, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sering mengingatkan mereka dengan kenikmatan Surga. Ketika melewati Yasir, istri dan anaknya Ammar yang sedang disiksa oleh kaum musyrikin beliau mengatakan: "Bersabarlah wahai keluarga Yasir, tempat kalian nanti adalah Surga (HR. Al Hakim/III/383, hasan shahih)
Mudah-mudahan kita bisa merawat dan terus-menerus meneguhkan keimanan kita sehingga Allah menjadikan kita khusnul khatimah. Amin.
Referensi : bit tasharruf waz ziyadah oleh : Muhammad Shalih Al Munajjid

Selasa, 24 Januari 2012

RISALAH SHALAT BERJAMA’AH


RISALAH SHALAT BERJAMA’AH
Disusun oleh: H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud
Koordinator Bidang Dakwah IPHI Daerah Sleman

Salah satu syarat tegak dan sempurnanya shalat adalah dilaksanakan dengan berjama’ah di masjid, mushalla, langgar atau tempat ibadah lainnya yang dengan sengaja dibangun untuk kepentingan ibadah shalat berjama’ah bagi umat Islam.
Shalat jama’ah adalah shalat yang dilakukan secara bersama-sama antara dua orang atau lebih, dengan cara salah seorang berdiri paling depan menjadi imam dan yang lain berdiri di belakangnya menjadi makmum. Shalat berjama’ah sangat dianjurkan dalam Islam karena memiliki beberapa keutamaan dibanding dengan shalat sendirian sebagaimana sabda Rasulullah SAW.
صلاة الجماعة تفضل صلاة الفدبسبع وعشرين درجة ( رواه البخارى ومسلم عن ابن عمر)
“Shalat berjama’ah itu lebih utama daripada shalat sendirian sengan terpaut dua puluh tujuh derajat (pahalanya)”. ( HR.. Bukhari Muslim dari Abdullah ibnu Umar ).
Pengertian hadits di atas dapat mendorong dan menggugah hati kita untuk lebih aktif dalam mengerjakan shalat terutama jika dilaksaksanakan dengan berjama’ah. Rasulullah selalu melaksanakan shalat fardhu dengan berjama’ah, tidak pernah sendirian kecuali shalat sunnah
Adapun tata cara pelaksanaan shalat berjama’ah sebagai berikut :
a. Shalat berjama’ah itu paling sedikit terdiri dari dua orang, yaitu imam dan makmum. Dalam shalat berjama’ah, makmum wajib berniat menjadi makmum, sebaliknya imam, tidak disyaratkan niat menjadi imam. Makmum wajib mengikuti imamnya dalam segala pekerjaan shalatnya. Selain itu, gerak gerik makmum tidak boleh mendahului imam, sampai pada tahiyyat terakhir, setelah imam membaca salam kedua, baru makmum mengikutinya mulai salam pertama ke kanan, kemudian diikuti salam kedua ke kiri. Demikian juga tempat berdiri makmum tidak boleh lebih ke muka dari imam.
b. Imam dan makmum harus berada dalam satu tempat, dan makmum dapat mengetahui gerak gerik imam :
- Kalau makmumnya hanya satu orang laki-laki, maka makmum berdiri di sebelah kanan imam.
- Apabila imam laki-laki dan makmum perempuan, hendaklah makmum di belakang agak jauh, untuk memberi peluang kalau ada makmum laki-laki yang menyusul.
- Kalau imamnya wanita, maka semua makmumnya hanya wanita, kecuali anak laki-laki yang belum baligh, boleh makmum imam wanita. Posisi imam wanita hanya sejengkal lebih di depan daripada makmum wanita.
- Apabila makmum lebih dari satu orang, hendaklah berdiri di belakang imam, dan dijaga keseimbangan makmum (kiri-kanannya), sedang imam berada di tengah-tengah. Bila shaf di depan sudah penuh, lalu membuat shaf baru di arah belakang imam, dan tambahnya di kiri-kanan secara seimbang.
c. Apabila makmum banyak sekali dan tanpa pengeras suara, sedang suara imam tidak terdengar ke seluruh jama’ah maka hendaklah ada seseorang yang mengeraskan suara takbir-takbirnya (sebagai penyampai/muballigh), sehingga diharapkan dapat terdengar oleh seluruh jama’ah.
Seseorang yang datang ke tempat shalat mendapatkan imam sedang ruku’, maka orang tersebut segera takbiratul ihram, lalu langsung ikut ruku’ selama imam belum tegak berdiri dari ruku’nya, dengan demikian orang tersebut sudah mendapat satu raka’at. Bila seseorang bertakbiratul ikhram pada saat imam telah duduk tahiyat akhir kemudian ia duduk, setelah itu imam mengerjakan salam, maka orang tersebut sudah mendapat pahala jama’ah (pahala shalat jama’ah 27 derajat lebih tinggi dibandingkan dengan shalat sendiri).
Keistimewaan bagi umat Islam yang mengerjakan shalat lima waktu dengan berjama’ah sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW. sebagai berikut:
1. Pertama LAA YUSHIIBUHUU FAQRUN FIDDUN-YA
Dia tidak akan memperoleh hidup kekurangan (kefakiran) di dunia. Artinya hidupnya di dunia tidak akan mengalami kesulitan dan tidak pula kekurangan. Mudah mencari pekerjaan dan mudah pula memperoleh penghasilan, mudah mengerjakan kebaikan dan mudah pula menjauhi larangan dan kema’shiatan. Itulah keistimewaan yang terkandung dalam nilai shalat lima waktu yang kita kerjakan dengan berjamaah. Rasulullah saw. bersabda :
الصلاة مفتاح كل خير
“Shalat itu kuncinya segala kebaikan”. ( HR. Thabrani )
Karena itu mari kita tetap berusaha agar dapat mengerjakan shalat dengan baik dan benar, khusyu’ dan konsentrasi karena Allah SWT., supaya shalat kita diterima dan mendapat pahala, serta dapat membawa perubahan ke arah yang lebih baik dan lebih maju.
2. Kedua YARFA’ULLOOHU ‘ANHU ‘ADZAABAL QOBRI :
Allah akan menghilangkan dari azab (siksa) kubur. Muslim yang melaksanakan kewajiban shalatnya dengan berjama’ah, maka dia akan terbebas dari azab atau siksa kubur.
Betapa hebat keutamaan dan keistimewaan shalat wajib jika dilaksanakan dengan berjama’ah, selain pahalanya yang berlipat ganda, juga dapat menyelamatkan kita atau seseorang dari siksa kubur.
Shalat tersebut berkaitan dengan amalan dan perbuatan-perbuatan kita, sebab jika shalat wajib itu dikerjakan dengan benar dan tulus karena Allah SWT. sudah tentu akan dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar, yang berarti bahwa akan terhindar dari noda dan dosa, dan berarti pula terbebas dari siksa kubur. Allah SWT berfirman :
وأقم الصلاة إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر ولذكر الله أكبر
“Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar”. ( QS. Al Ankabut : 45 ).
3. Ketiga YU’THII KITAA BAHU BIYAMIINIHII :
Diberikan kitab (Buku) catatan amalnya dengan tangan kanannya. Artinya, hal itu menandakan bahwa dia orang yang baik, ahli ibadah dan ahli berjama’ah.
Apabila kita rajin mengerjakan ibadah dan shalat dengan berjama’ah, maka kita akan mendapat buku catatan amal kita dengan tangan kanan, yang berarti pula kita akan diperiksa dengan mudah. Allah SWT berfirman :
فأما من أوتي كتابه بيمينه * فسوف يحاسب حسابا يسيرا * وينقلب إلى أهله مسرورا *
“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya dengan gembira”. ( QS. Al Insyqaq : 7-9 ).
4. Keempat YAMURRU ‘ALASH-SHIROOTHI KAL BARQIL KHOOTHIF :
Berjalan di atas shirat (jembatan) seperti kilat yang menyambar. Artinya, mu’min yang ahli ibadah dan rajin shalat berjama’ah, nanti dia berjalan di atas jembatan (shirat) laksana kilat yang menyambar, atau secepat kilat.
Begitu cepatnya perjalanan ahli berjama’ah itu di atas shirat, sehingga diumpamakan kilat yang menyambar, diapun selamat dari cengkraman kobaran api neraka yang menyala-nyala.
Demikian itu sebagai gambaran dan sekaligus pembalasan bagi orang-orang mu’min yang rajin ibadah dan shalat berjama’ah, juga bagi kita semua agar lebih rajin dalam menjalankan shalat berjama’ah.
5. Kelima YUDKHILUHULLOOHU TA’AALAA AL-JANNATA BILAA KHISAABIN WALAA ‘AZAAB:
Allah SWT memasukkan surga tanpa hisab (perhitungan) dan tanpa siksa. Artinya, mu’min yang ahli shalat berjama’ah, dia terbebas dari hisab (perhitungan) dan terlepas dari siksa Allah SWT.
Allah SWT sangat mencintai hamba-hambaNya yang rajin ibadah dan ahli shalat berjama’ah, terbukti dengan bebasnya perhitungan amal (hisab) dan azab (siksa) bagi mereka.
Allah SWT juga menyediakan surga dan kenikmatan-kenikmatan di dalamnya, bagi mereka (mu’min) yang taat, ahli ibadah, ahli shalat berjama’ah, ahli shadaqoh dan ahli kebaikan lainnya. Allah SWT berfirman :
والذين ءامنوا وعملوا الصالحات أولئك أصحاب الجنة هم فيها خالدون
“Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al Baqarah : 82).
Sedapat mungkin orang melakukan shalat fardlu itu dengan berjama’ah. Karena shalat berjama’ah itu lebih utama dan lebih besar pahalanya dibandingkan dengan shalat sendirian. Rasulullah saw. jika shalat fardlu tidak pernah sendirian kecuali jika melaksanakan shalat sunnah. Bahkan jika ada orang yang shalat fardlu sendirian, Rasulullah memintanya berjama’ah.
Shalat berjama’ah ini mengandung hikmah dan faedah yang sangat besar bagi kesejahteraan hidup manusia, bisa memperkokoh rasa persaudaraan, seperjuangan, senasib dan sepenanggungan.
Berjama’ah juga sebagai pendorong agar umat Islam selalu hidup rukun, bersatu padu, tolong menolong, bantu membantu dalam meringankan beban hidup, saling mencintai dan menghormati satu sama lain. Yang demikian ini akan mendatangkan berkah dari Allah SWT. kepada umat manusia. Jadi jelas bahwa shalat fardlu dengan berjama’ah merupakan tuntunan yang benar.
Allah menegaskan bahwa Allah akan memberi pahala yang berlimpah karena di dalam berjama’ah itu terkandung hikmah yang sangat besar sebagaimana telah dijelaskan di atas.

MAKMUM
Orang yang makmum dalam shalat disyaratkan :
1. Mengikuti segala gerak-gerik imam dan tidak boleh bersamaan dengan imam apalagi mendahului.
2. Mengetahui tentang gerak-gerik imam.
3. Berada satu tempat dengan imam, boleh berpisah (tempat) jika dalam keadaan terpaksa.
4. Tidak boleh mendahului imam dalam segala hal ihwalnya.
5. Tidak boleh berdiri di depan imam
6. Shalatnya makmum harus sesuai dengan shalatnya imam dalam aturan dan cara menjalankannya.
7. Laki-laki tidak sah jika makmum kepada perempuan.
8. Jangan makmum kepada imam yang shalatnya tidak sah, misalnya sedang berhadats dan sebagainya, jika mengetahui tidak sahnya. Makmum hendaklah bermakmum kepada imam yang baik bacaannya (tajwidnya) kecuali jika dalam keadaan terpaksa karena tidak adanya imam yang diinginkan.

MAKMUM MASBUQ
Jika makmum datangnya terlambat, sedangkan imam sudah melakukan sebagian dari shalatnya itu, maka makmum tadi disebut “makmum masbuq”. Tata cara menjadi makmum masbuq antara lain :
1. Segera takbiratul ikhram dengan niat makmum.
2. Mengikuti dan menuruti semua gerakan dan apa yang sedang dikerjakan oleh imam seketika itu juga, baik imam sedang ruku’, sujud maupun lainnya.
3. Apabila imam sudah selesai shalatnya, maka makmum tadi harus melanjutkan sendiri shalatnya untuk menambah jumlah rakaat yang kurang. Misalnya shalat maghrib, apabila seorang makmum baru mengerjakan dua rakaat bersama imam, sedangkan imam sudah selesai, maka dia harus menambah satu rakaat lagi, sebab shalat maghrib itu berjumlah tiga rakaat. Begitu juga seterusnya.
Adapun seseorang yang akan menjadi imam hendaklah orang yang baik bacaannya, banyak hafalan surat-surat dan ayat-ayat Al Qur’an, dan baik akhlaknya. Seseorang yang tidak baik akhlaknya, sebaiknya jangan menjadi imam dan jangan dijadikan sebagai imam.
Semoga Allah memudahkan Nasrum-minallah

Minggu, 11 Desember 2011

ISTIGHFAR DAN TAUBAT ADALAH KUNCI PEMBUKA RIZKI DAN KEBERKAHAN DARI ALLAH SWT.


ISTIGHFAR DAN TAUBAT ADALAH KUNCI PEMBUKA RIZKI DAN KEBERKAHAN DARI ALLAH SWT.
Oleh: H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud

A. PENDAHULUAN
Menggapai kesejahteraan hidup dalam rangka mencapai kebahagiaan hidup di dunia merupakan satu keharusan disamping merupakan idaman setiap orang yang sehat akal fikirnya juga merupakan anjuran langsung dari Allah SWT. sebagaimana telah difirmankan oleh-Nya yang berbunyi :

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash:77)
Untuk menggapai kesejahteraan hidup maka setiap harus mampu memanfaatkan waktu untuk menyibukkan diri mencari rizki, karena mencari rizki juga merupakan keharusan yang diperbolehkan dalam Islam selama pemnuhan hajad dan pamanfaatannya adalah dalam rangka memenuhi kewajiban kepada Allah SWT.
Dalam pandangan masyarakat sekuler (baik dari kalangan umat Islam maupun non Islam) ada pandangan bahwa jika seseorang berpegang teguh kepada ajaran Islam akan mengurangi kesempatan memenuhi kebutuhan rizki karena mereka akan selalu disibukkan oleh keharusnya melaksanakan ajaran agama secara ketat, sementara ada juga yang berpandangan bahwa jika ingin mendapatkan kemudahan di bidang materi dan kemapanan ekonomi hendaknya mereka mau menutup mata dari ketentuan syari’at Islam terutama berkenaan dengan ketentuan hukum HALAL dan HARAM.
Allah mensyari’atkan agama-Nya bukan saja sebagai petunjuk bagi umat manusia agar tercapai kebahagiaan dan kesempurnaan hidup di akhirat, tetapi jua untuk membimbing manusia dengan PETUNJUK-NYA agar mereka bisa mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia secara wajar, sehat dan berkwalitas sebagai jembatan untuk menggapai kedua-duanya. Sesungguhnyalah hidup di dunia ini ibarat memanfaatkan lading akhirat secara tepat guna dan berhasil guna. Bahkan Rasulullah SAW. sendiri selalu memohon kepada Allah SWT. agar di karuniai kebaikan (kebahagiaan hdiup) di dunia dan juga kebaikan (kebahagiaan hdiup) di akhirat :
Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik RA, menyatakan :
كَانَ اَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ : رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". (QS. Al-Baqarah:201)
Allah dan Rasul-Nya tidak akan meninggalkan umat manusia (Islam) tanpa petunjuk dalam kegelapan dan keraguan dalam usaha mencari rizki. Tetapi sebaliknya Allah dan Rasul-Nya telah menunjukkan bagaimana cara mendapatkan rizki dengan wajar, sehat dan berkualitas (barakah), dan semuanya telah diatur dan dijelaskan dalam PEDOMAN HIDUP YANG ABADI yakni AL-QUR’AN dan AS-SUNNAH. Sekiranya ummat ini mau memahami dan menyadarinya, niscaya Allah akan memudahkan jalan untuk mendapatkan rizki yang menjadi kebutuhan pokok dalam memenuhi hajad hidupnya dari segala arah, serta akan dibukakan untuknya keberkahan dari langit dan dari bumi, dan Rasul-Nya pun telah menjelaskan tentang berbagai sebab di atas dan meluruskan pemahaman yang salah dalam usaha mencari rizki.
Firman Allah SWT:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS.Al-A’raf:96)

B. ISTIGHFAR DAN TAUBAT SEBAGAI KUNCI PEMBUKA PINTU RIZKI
Di antara sebab terpenting diturunkannya rizki adalah ISTIGHFAR (memohon ampun) dan TAUBAT kepada Allah. Sebagaimana firman Allah tentang Nabi Nuh yang berkata kepada kaumnya :
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً * يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً *
“maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, --sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun--, * niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, * dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai".(QS. Nuh:10-12)
Yang dimaksud istighfar dan taubat dalam hal ini bukan hanya sekedar apa yang diucapkan lisan saja, yang tidak membekas d dalam hati sama sekali, bahkan tidak berpengaruh pada perbuatan badan. Tetapi yang dimaksud dengan istighfar adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah “meminta ampun dengan disertai ucapan dan perbuatan, bukan sekedar lisan semata”. Jadi istighfar adalah aplikasi dari apa yang ada di dalam hati yang diikrarkan dengan lisan, sehingga ada keterpaduan antara APA YANG BERSEMAYAM DI HATI, DIUCAPKAN LISAN, dan DIUJUDKAN DENGAN PERBUATAN NYATA.
Sedangkan makna taubat sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah meninggalkan dosa karena keburukannya,enyesali dosa yang telah dilakukan, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha melakukan apa yang lebih baik (sebagai ganti). Jika keempat hal tersebut telah dipenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna.
Imam An-Nawawi menjelaskan di dalam Kitab Riyadhus Shalihin bahwa : “Para Ulama berkata: ~ “Bertaubat dari setiap dosa hukumnya adalah wajib. Jika (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak sesama manusia, maka syaratnya ada tiga :
أَحَدُهَا أَنْ يَقْلَعَ عَنِ الْمَعْصِيَةِ, وَالثَّانِي أَنْ يَنْدَمَ عَلَى فِعْلِهَا, وَالثَّالِثُ أَنْ يَعْزَمَ أَنْ لاَ يَعُوْدَ إِلَيْهَا أَبَدًا
1. Hendaknya ia harus menjauhi maksiat tersebut.
2. Ia harus menyesali perbuatan (maksiat)nya.
3. Ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi.
Jika salah salah satu syarat hilang, maka taubatnya tidak sah (tidak bisa dikatakan taubat dalam arti yang sesungguhnya)
Apabila taubatnya itu berkaitan dengan hak sesama manusia maka syaratnya ada empat, yaitu ketiga syarat di atas di tambah satu, yaitu hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi) hak orang lain. Jika berupa harta benda maka ia harus mengembalikan, jika berupa had (hukuman) maka ia harus memberinya kesempatan untuk membalas atau meminta maaf kepadanya, dan jika berupa ghibab (menggunjing), maka ia harus meminta maaf.
Makna taubat secara lafzhiyah adalah kembali. Sedangkan makna secara syar’i ada dua pengertian yakni:
1. Kembali ke jalan Allah setelah banyak melakukan penyimpangan-penyimpangan dalam menjalani hidup dan kehidupan, atau kembali kepada fithrahnya sebagai makhluk beragama yang memiliki nilai-nilai ketaatan kepada Allah, yang ber-susila, bermartabat tinggi serta memiliki nilai-nilai sosial (lihat Memahami Hakikat Makna Fithrah pada tulisan terdahulu).
2. Kembali kepada kesucian setelah dirinya banyak bergelimang dengan dosa karena banyak melakukan kesalahan, kemaksiatan, kemunkaran dan kebathilan atau kembali ke fithrah sebagai makhluk yang suci.

C. KEUTAMAAN ISTIGHFAR DAN TAUBAT
Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya (surat Nuh: 10-12) berkata: ”Maknanya, jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepada-Nya, niscaya ia akan memperbanyak rizki kalian, Dia akan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, melimpahkan air susu, memperbanyak harta dan anak keturunan untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya terdapat macam-macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai-sungai diantara kebun-kebun untuk kalian”
Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shahih, bahwasanya ia berkata: ”Ada seorang laki-laki mengadu kepada Imam Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya, ” Beristighfarlah kepada Allah!”. Yang lain mengadu kepada beliau tentang kemiskinan, beliau-pun berkata kepada orang itu, ” Beristighfarlah kepada Allah!”. Yang lain lagi berkata kepada beliau, ”Doakanlah (aku) kepada Allah, agar DIA memberiku anak!”, maka beliau mengatakan kepada orang tersebut, ” Beristighfarlah kepada Allah!”. Dan yang lainnya lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya, maka beliau mengatakan (pula), ” Beristighfarlah kepada Allah!”.
Di ayat yang lain Allah mengisahkan tentang seruan Nabi Hud AS kepada kaumnya agar beristighfar, sebagaimana bunyi ayat berikut ini :
وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلاَ تَتَوَلَّوْاْ مُجْرِمِينَ
“Dan (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa." (QS. Hud:52)
Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini menyatakan: “Kemudian Hud memerintahkan kaumnya untuk beristighfar sehingga dosa-dosa yang lalu dapat dihapuskan, kemudian memerintahkan bertaubat untuk waktu yang mereka hadapi (saat itu juga). Barangsiapa memiliki sifat seperti ini, niscaya Allah akan memudahkan rizkinya, melancarkan urusannya dan menjaga keadaannya”.
Dan pada surat Hud ayat yang lainnya lagi Allah juga menerangkan :
وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنِّيَ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ
“dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (QS. Hud:3)
Imam AL-Qurthubi mengatakan: “Inilah buah istighfar dan taubat. Yakni Allah akan memberikan kenikmatan kepada kalian dengan berbagai manfaat berupa kelapangan rizki dan kemakmuran hidup serta Allah tidak akan menyiksa kalian sebagaimana yang telah dilakukannya terhadap orang-orang yang dibinasakan sebelum kalian”.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasa-I, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abdullah bin Abbas ia berkata, Rasulullah SAW. bersabda:
مَنْ أَكْثَرَ اْلإِسْتِغْفَارَ (وَفِى رِوَايَةٍ أَخَرَ مَنْ لَزِمَ اْلإِسْتِغْفَارَ) جَعَلَ الله ُمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ.
“Barang siapa memperbanyak istighfar (dalam riwayat yang lain: Barang siapa membiasakan istighfar), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberikan rizki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka.”.
Dalam hadits ini Nabi menggambarkan tentang tiga hasil yang dapat diambil pelajaran, bahwa orang yang banyak beristighfar maka Allah akan memberikan rizki dari berbagai macam cara dan dari arah yang tiada disangka-sangka. Disamping itu juga Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesedihannya dan memberikan kelapangan dari setiap kesempitannya yang dialaminya
Karena itulah, kepada setiap orang yang mengharapkan rizki dari Allah hendaklah orang itu memperbanyak (membiasakan) istighfar, baik dengan ucapan maupun secara batiniyah yang diaplikasikan dengan sikap, perilaku dan perbuatan nyata.

D. KESIMPULAN DAN PENUTUP
Dari uraian di atas dapat diambil satu kesimpulan bahwa:
1. Allah telah mensyari’atkan kepada umat manusia (kaum Muslimin) agar senantiasa beristighfar dan bartaubat dengan lisan yang disertai perbuatan. Karena istighfar dan taubat dengan lisan semata tanpa disertai dengan perbuatan adalah sikap para pendusta.
2. Membiasakan istighfar dan taubat akan menghapuskan semua kesalahan dan dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosanya serta akan akan memberikan ketenangan dan kejernihan berfikir sehingga ia akan mampu keluar dari semua kesulitan dan kesedihan yang menghimpit dirinya.
3. Beristighfar dan bertaubat akan memberikan peluang besar bagi terbukanya pintu rizki dari Allah SWT. serta Dia akan mencurahkan keberkahan dari langit dan membukakan keberkahan pula dari bumi.
Sebagai penutup dari tulisan ini marilah kita simak ayat berikut ini :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿٨﴾
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS. At-Tahrim:8)
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi peningkatan kwalitas diri menuju peningkatan ketaqwaan pasca ramadhan sebagai upaya menjaga keistiqamahan sebagai hamba Allah
Terima kasih telah berkenan mambaca tulisan ini, semoga Allah SWT. memberkahi kita semua. Aamiin.......

Rabu, 07 Desember 2011

TATA CARA MELAKSANAKAN SHALAT GERHANA


TATA CARA MELAKSANAKAN SHALAT GERHANA
Oleh : H Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud.

Sebagaimana telah diuraikan pada tulisan yang berjudul “GERHANA BULAN SEBAGAI BUKTI KEKUASAAN ALLAH DAN BAGAIMANA MENYIKAPINYA” bahwa gerhana bulan total ini hanyalah fenomina alam yang merupakan sebagian dari bukti keagungan Allah yang harus disikapi dengan iman yang mantab untuk menumbuhkan semangat beribadah yang semakin meningkat kepada Allah. Sebagaimana firman Allah SWT. yang berbunyi:
وَمِنْ أَيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لاَ تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلاَ لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا للهِ الَّذِى خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam dan siang, matahari dan bulan. Jangan kalian bersujud kepada matahari, jangan pula kepada bulan. Bersujudlah kepada Allah yang menciptakan keduanya jika kalian memang menyembah (hanya) kepada-Nya”~ (QS. Fushshilat:37)
Maka seyogyanyalah kaum muslimin dan muslimat melaksanakan shalat khusuful-qamar sesuai dengan anjuran dan contoh yang telah di berikan oleh Rasulullah SAW. yang dilaksanakan sejak awal terjadi gerhana bulan total. Untuk mengetahui kapan awal terjadinya gerhana bulan total, puncak gerhana total dan akhir dari gerhana total, maka berikut ini kami sampaikan rincian waktu gerhana sebagai berikut:
  • Awal gerhana penumbra : 18:33:32 WIB
  • Awal gerhana persial : 19:45:42 WIB
  • Awal gerhana total : 21:06:16 WIB
  • Puncak Gerhana (terbesar) : 21:31:49 WIB
  • Akhir gerhana total : 21:57:24 WIB
  • Awal gerhana persial : 23:17:58 WIB
  • Awal gerhana penumbra : 00:30:00 WIB
Menurut Jumhur ‘Ulama, shalat Khusuful-Qamar (gerhana bulan) hukumnya sunnah mu’akkad (sunnah yang sangat dianjurkan). Dihimbau setiap masjid/Mushalla ataupun Langgar agar menyelenggarakan shalat sunnah ini pada saat terjadinya gerhana bulan maupun gerhana matahari, dengan mencari waktu yang paling utama yakni saat memasuki puncak gerhana bulan total, yakni antara jam 21.00 sampai jam 21.30 WIB.
Adapun tata cara melaksanakannya sebagai berikut:
  1. Shalat gerhana dilaksanakan dengan cara berjama’ah, tanpa adzan maupun iqamah. Untuk memulainya imam atau mu’addzin cukup mengucapkan “ASHSHALAATU JAAMI’AH”.
  2. Dilaksanakan dengan dua raka’at. Setiap raka’at terdiri atas berdiri dua kali, membaca surah al-Fatihah dua kali, membaca surah setelah al-Fatihah dua kali, ruku’ dua kali dan sujud dua kali, serta satu kali tasyahhud.Diutamakan setelah membaca surah al-Fatihah, membaca surah yang agak panjang.
  3. Setelah membaca al-Fatihah dan membaca surah yang pertama, dilanjutkan ruku’ yang pertama, lalu bangun dari ruku’ (i’tidal yang pertama) sambil membaca “Allaahu akbar” dan berdiri seperti keadaan semula dilanjutkan membaca surah al-Fatihah dan surah yang kedua. Setelah itu ruku’ yang kedua di raka’at pertama, kemudian bangun dari ruku’ (i’tidal yang kedua) sambil mengucap “SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH” dan seterusnya, kemudian dilanjutkan sampai sehalat selesai. Menurut Ulama’ Syafi’iyyah, ruku’ dan sujud dalam shalat gerhana tidak perlu terlalu lama.
  4. Imam membaca surah al-Fatihah dan surah lainnya dalam shalat dengan bacaan nyaring (jahr), begitu pula ketika melaksanakan shalat Kusyufusy-Syams (gerhana matahari).
  5. Shalat gerhana tidak dilaksanakan di waktu-waktu larangan shalat (seperti setelah shalat shubuh dan setelah shalat ‘ashar), meskipun Ulama syafi’iyah memperbolehkan. Demikian pula, shalat gerhana ini tidak dilaksanakan setelah gerhana selesai. Jika shalat sedang berlangsung sementara gerhana mulai berlalu, maka shalat gerhananya sah, dan hendaknya diringankan pelaksanaannya.
  6. Berdasarkan riwayat yang bersumber dari ‘Aisyah R.A., setelah shalat gerhana selesai dilaksanakan, imam menyampaikan khutbah sebagai kesempurnaan shalat yang berisi nasihat. Adapun rukun khutbat shalat gerhana sama dengan rukun khutbah jumu’ah dan khutbah shalat ‘idain. Isi pokok khutbah shalat gerhana adalah mengingatkan jama’ah agar bertaqwa kepada Allah, mengingatkan bahwa matahari dan bulan itu dua di antara tanda-tanda kekuasaan Allah, menganjurkan bertaubat dari segala dosa, mengerjakan kebajikan berupa memperbanyak shadaqah, doa dan istighfar, serta mengingatkan manusia agar tidak lalai dan tertipu oleh kemerlapnya dunia.
  7. Diutamakan shalat gerhana dilaksanakan di masjid yang biasa dipergunakan untuk menyelenggarakan shalat jumu’ah.
Wallaahu a’lam bishshawab.

GERHANA BULAN SEBAGAI BUKTI KEKUASAAN ALLAH DAN BAGAIMANA MENYIKAPINYA.


GERHANA BULAN SEBAGAI BUKTI KEKUASAAN ALLAH
DAN BAGAIMANA MENYIKAPINYA.
Oleh : H Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud

Allah SWT. adalah Pencipta tunggal dari alam semesta dan tidak membutuhkan bantuan siapapun dalam penciptaan-Nya. Banyak tanda kekuasaan Allah yang diperlihatkan secara nyata kepada umat manusia, mulai dari hamparan alam semesta beserta peristiwa yang mewarnainya, langit dengan hiasannya dan bumi dengan hamparannya, hingga apa yang terjadi pada diri masing-masing manusia. Semuanya dalam rangka pembelajaran bagi manusia agar terbuka cakrawala berfikir dan spiritualitasnya sehingga dengannya manusia dapat memperoleh manfaat ganda bagi kesempurnaan hidupnya di dunia hingga akhirat nanti.
Firman Allah SWT.
وَمِنْ أَيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لاَ تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلاَ لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا للهِ الَّذِى خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam dan siang, matahari dan bulan. Jangan kalian bersujud kepada matahari, jangan pula kepada bulan. Bersujudlah kepada Allah yang menciptakan keduanya jika kalian memang menyembah (hanya) kepada-Nya”~ (QS. Fushshilat:37)
Dia juga telah menciptakan manusia dari ketiadaan, melimpahinya dengan berbagai karunia lahiriyah maupun batiniyah, juga membimbing manusia dengan cahaya hidayah-Nya agar mereka tetap selamat dan bermartabat.
Gerhana bulan yang akan terjadi pada hari sabtu tanggal 10 Desember 2011 yang bertepatan dengan tanggal 16 Muharram 1433 H, termasuk salah satu tanda kekuasaan Allah SWT. Allah ‘Azza Wa Jalla akan menunjukkan kembali salah satu bukti keagungan-Nya, yang telah menciptakan jagad raya seisinya, memelihara keseimbangannya, menempatkan setiap bagiannya dalam orbit masing-masing, sehingga tidak terjadi benturan antara satu dengan lainnya yang akan menimbulkan gincangan, bahkan kehancuran alam semesta.
Peristiwa alam yang akan berlangsung adalah Gerhana Bulan Total, yang dimulai pukul 19.45 saat lempengan bulan purnama menyentuh kawasan gelap penumbra; gerhana sempurna akan terjadi pukul 21.31 dan akan berakhir pukul 23.17. Untuk jelasnya dapat dilihat proses terjadinya gerhana dari waktu ke waktu sebagai berikut :
  • Awal gerhana penumbra : 18:33:32 WIB
  • Awal gerhana persial : 19:45:42 WIB
  • Awal gerhana total : 21:06:16 WIB
  • Puncak Gerhana (terbesar) : 21:31:49 WIB
  • Akhir gerhana total : 21:57:24 WIB
  • Awal gerhana persial : 23:17:58 WIB
  • Awal gerhana penumbra : 00:30:00 WIB
Gerhana terjadi multak karena kuasa Allah, bukan karena alam sedang memberi isyarat kepada makhluk penduduk bumi baik tentang kehidupan maupun kematian seseorang, ataupun sebagai pertanda terjadinya petaka dan akan datangnya rasa bahagia kepada sekelompok manusia,
Rasulullah SAW. bersabda :
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ أَيَتَانِ مِنْ أَيَاتِ اللهِ لاَ يَنْكَشِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلِحَيَاتِهِ , فَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُمَا فَصَلُّوْا وَادْعُوْا حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ
“Matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Tidak gerhana keduanya karena mati atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana, laksanakan shalat dan berdoalah hingga hilang kegelapan (karena gerhana) yang menyelimuti kalian”~ (HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa-i, Ahmad dan Ad-Darami)
Dalam pandangan kaum cerdik pandai atau kaum cendekiawan, ketika terjadi gerhana bulan total (demikian juga saat terjadi gerhana matahari total), maka bulan bumi dan matahari berada dalam satu garis dan secara teoritis keilmiahan dapat menimbulkan potensi pelepasan energi tektonik dan vulkanik berada di titik maksimum. Karena saat itu akan terjadi gaya tarik yang dialami oleh bumi melebihi gaya tarik di waktu pasang biasa pada tiap awal dan pertengahan bulan. Dan menurut analisa mereka aka nada potensi gempa dan tsunami.
Namun berbeda jika manusia menganalisanya dari sudut keimanan. Sebagai kaum beriman, tidak seharusnya manusia itu cemas pada saat terjadi gerhana bulan total maupun gerhana matahari total, karena bukan alam yang mengatur geraknya sendiri, melainkan Allah Yang Maha Kuasa, Yang tiada tuhan selain Dia, Yang berdikari mengatur alam semesta raya ini.
Firman Allah SWT.
لَوْ كَانَ فِيْهِمَا أَلِهَةٌ إِلاَّ الله ُلَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُوْنَ
“Sekiranya ada tuhan selain Allah yang (turut) mengatur langit dan bumi, pastilah rusak binasa keduanya. Maha Suci Allah Sang Penguasa Tahta Semesta alam dari sifat-sifat yang mereka ciptakan”~ (QS. Anbiya’:22)
Dari ayat ini dapat diketahui bahwa ala mini telah diatur sedemikian rupa dengan pengaturan Allah yang tetap, tidak berubah dari masa ke masa serta tidak bergesar melampuan ketentuan-Nya yang masing-masing telah menempati obitnya sesuai dengan sunnatullah.
Firman Allah SWT.
فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللهِ تَبْدِيْلاً وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللهِ تَحْوِيْلاً
“Maka kamu tidak akan mendapatkan perubahan bagi ketentuan Allah, dan tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi ketentuan Allah itu”~ (QS. Fathir:43)
Dan seluruh makhluk di langit yang tujuh, juga di lapis-lapis langit yang juga tujuh, (semuanya) tunduk dan patuh kepada pengaturan itu. Bahkan tubuh-tubuh kitapun tunduk pada pengaturan Allah. Jika Dia (Allah) menghendaki memanggil jiwa jiwa manusia keluar dari jasad yang menjadi tempat tinggalnya, maka tidak ada satu kekuatanpun yang mampu mencegah-Nya. Siapa yang mempunyai kekuasaan menunda ajal seseorang jika Sang Pencipta Kehidupan sudah menetapkan saat tibanya.
Firman Allah SWT.
أَفَغَيْرَ دِيْنِ اللهِ يَبْغُوْنَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يَرْجَعُوْنَ
“Apakah mereka (orang kafir) itu tidak mau tunduk kepada Allah? Sementara siapa saja yang ada di langit dan di bumi telah tunduk (kepada Allah) suka ataupun terpaksa, bahkan (mereka) hendak mencari agama selain agama Allah. Dan kepada Allah-lah mereka akan kembali”~ (QS. Ali Imran:83)
Jika gerhana telah tiba, lalu semua orang menengadahkan wajahnya ke atas ke bentangan langit yang luas, yang di tengah-tengahnya sedang terjadi peristiwa yang menakjubkan. Tiga benda utama yakni bumi yang dihuni oleh manusia, matahari yang merupakan bola api yang tidak pernah padam mamancarkan cahayanya, dan bulan yang dengan daya tarik gravitasinya dapat menetukan pasang surutnya lautan, sedang memenuhi kewajiban kepada Sang Khalik yang telah mengaturnya. Dan pada saatnya nanti mereka semua akan tunduk dan patuh ketika Sang Pencipta telah menetapkan kehancurannya saat digulung bersama dengan jagat raya lainnya, sebagaimana firman Allah SWT. yang berbunyi:
يَوْمَ نَطْوِى السَّمَآءِ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيْدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِيْنَ
“pada hari Kami gulung langit seperti gulungan lembaran kertas. Sebagaimana (ketika) Kami mulai menciptakan(nya), Kami akan mengulangi (penciptaan)nya. Sungguh, Kami akan melakukannya”~ (QS Anbiya’:104)
Jika semua manusia memiliki kesadaran tentang semuanya itu, maka tentunya akan memberikan pengaruh bagi peneguhan aqidah kepada Allah yang telah menciptakan alam semesta ini. Menyembah hanya kepada-Nya, dan melepaskan semua bentuk ketundukan dan kepatuhan kepada selain Dia. Betapapun mempesona dan bermanfaat makhluk ciptaan Allah bagi kehidupan manusia, tetap saja yang wajib disembah hanyalah Allah SWT. semata.
Selanjutnya untuk menyikapi terjadinya gerhana tersebut maka yang harus dilakukan adalah:
  1. Melaksanakan shalat khusuful-qamar (gerhana bulan). Tata caranya disajikan di halaman lain dari tulisan ini.
  2. Memperbanyak istighfar dan bertaubat kepada Allah dari segala dosa dan kesalahan.
  3. Memperbaharui semangat untuk mengerjakan kebajikan, menertibkan ibadah wajib dan menggemarkan ibadah sunnah, memenuhi kewajiban zakat dan memperbanyak infaq serta shadaqah, dan istiqamah dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya.
  4. Lebih giat dan bersungguh-sungguh dalam berdoa setiap saat, dan tidak menyimpan doa-doa hanya untuk ditumpahkan saat terjadi bencana atau musibah.
  5. Meningkatkan cintanya kepada Allah dan tidak terpedaya oleh godaan syetan melalui tipuan gemerlapnya kemegahan dan kemewahan dunia.
Wallaahu a’lam bishshawaab.