Paduan Suara Mars DBKS

Paduan Suara Mars DBKS Desa Maguwoharjo Kecamatan Depok sedang menyayikan Mars DBKS dalam acara evaluasi lomba DBKS Tingkat Kabupaten Sleman.

Tamu Undangan Muspika Depok

Tamu undangan dari unsur Muspika kecamatan Depok sedang menghadiri acara evaluasi loma DBKS Desa Maguwoharjo tingkat kabupaten Sleman

Bimbingan Manasik Haji

H. Muhammad Chaeruddin sedang memberikan penjelasan dan materi dalam rangka manasik haji kecamatan Depok kabupaten Sleman

Praktik Manasik Haji

Para jamaah calon haji kecamatan Depok sedang melaksanakan praktik manasik haji untuk menyempurnakan materi yang diterima secara teoretis

Administrasi Manasik Haji

Untuk mewujudkan pelaksanaan bimbingan manasik haji di Tingkat Kecamatan Depok, harus ditunjang dengan administrasi yang efektif dan efiesien

Selasa, 12 April 2011

MELEPASKAN DIRI DARI DELAPAN PENYAKIT RUHANI


MELEPASKAN DIRI DARI DELAPAN PENYAKIT RUHANI
Oleh : H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud.

Suatu hari Rasulullah SAW. masuk ke dalam masjid dan dijumpainya seorang Anshar bernama Abu Amamah sedang duduk tafakkur, padahal di saat-saat seperti itu tidak biasanya orang berada di masjid, karena masih jauh waktu shalat. Didekatinya Abu Amamah itu sambil bersabda :
“Wahai Abu Amamah, apa yang mendorongmu duduk-duduk di sini di saat begini, padahal belum tiba waktu shalat ?”. Abu Amamah menjawab: “Kebimbangan hati dan hutang yang melilit leher telah menghantui diriku, ya Rasulullah, sehingga memaksa aku duduk di sini”. Rasulullah SAW. bersabda: “Maukah engkau kuajari sesuatu sekiranya engkau ucapkan, Allah akan menghilangkan kebimbangan, dan hutangmu terlunasi ?,”. “Tentu saja ya Rasulullah”, Rasulullah SAW. bersabda: “Ucapkanlah do’a dan bermohonlah setiap pagi dan petang,
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ اَلْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِوَالْكَسَلِ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ غَلَبَتِ الدَّيْنِ وَقَهْرِالرِّجَالِ
(ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL HAMMI WAL HAZANI, WA A’UUDZU BIKA MINAL ‘AJZI WAL KASALI, WA A’UUDZU BIKA MINAL JUBNI WAL BUKHLI, WA A’UUDZU BIKA MIN GHALABATID DAINI WA QAHRIR RIJAAL) = Wahai Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari sikap bimbang dan bermuram durja, aku berlindung kepada Engkau dari sifat lemah dan malas, aku berlindung kepada Engkau dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan intimidasi orang lain”.
Begitu diajarkan do’a itu oleh RASULULLAH, segera dilaksanakan oleh Abu Amamah. Tak putus-putusnya beliau berdo’a setiap pagi dan sore, sehingga terasa benar pengaruh do’a itu pada dirinya. Rasa bimbangnya hilang dan hutangnyapun terlunasi.

Dari kisah nyata tersebut di atas dapatlah diambil pemahaman bahwa hati bimbang dan lilitan hutang adalah termasuk bagian dari aneka ragam penyakit ruhani.
Ada 8 (delapan) penyakit rohani yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia, karena dapat mengganggu ketenangan hidupnya bahkan dapat berakibat buruk bagi kelangsungan hidup umat manusia baik sebagai individu maupun kelompok.
Kedelapan penyakit rohani yang dinyatakan oleh Rasulullah SAW. yaitu:

اَلْهَمُّ وَالْحَزَنُ وَالْعَجْزُوَالْكَسَلُ وَالْجُبْنُ وَالْبُخْلُ وَغَلَبَتُ الدَّيْنِ وَقَهْرُالرِّجَالِ
“Sikap bimbang ) ragu ), bermuram durja, lemah tak berdaya, malas, pengecut, kikir, terlilit hutang dan di bawah intimidasi orang lain“
a. Sikap bimbang dan ragu. Suatu sikap yang selalu merasa cemas dan tidak berani berbuat karena takut kalau-kalau tindakannya akan merugikan atau membahayakan dirinya, tingkah lakunya tidak menentu, berbuat tidak , tidak berbuatpun serba salah, labil dan selalu dihantui kekhawatiran usahanya gagal. Kondisi semacam ini sangat merugikan karena orang yang memiliki sikap ini akan sering kehilangan momentum yang sangat berharga bagi kehidupannya.
b. Bermuram durja. Keadaan ini akibat terkena musibah yang beraneka ragam atau menghadapi kesulitan hidup yang tidak dapat dihindari, sulit melepaskan rasa sedihnya bahkan dipertontonkan kepada orang lain untuk menarik perhatian dan simpati orang lain. Kondisi semacam ini dapat mencekam kehidupannya sehingga tidak banyak yang dapat dilakukan, hidupnya hanya bergumul dengan kesedihan.
Dalam hal ini Allah SWT.telah mengingatkan :
وَلاَ تَهِنُوْا وَلاَ تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ اْلاَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ
“Janganlah kalian bersikap lemah ataupun bersedih hati, padahal kalian justru umat yang tinggi (martabatnya) sekiranya kalian benar-benar orang yang beriman” (QS. Ali Imran: 139).
c. Lemah tiada berdaya. Tiada mempunyai gairah hidup, inisiatif dan tidak kreatif serta tidak mampu menembus hambatan yang kecil sekalipun. Keadaan seperti ini akan menjadi beban bagi orang lain karena hidupnya akan sangat bergantung pada orang lain.
d. Malas. Istilah lainnya adalah penyakit lemah, menunjukkan sikap lesu dan tiada berkemauan, waktunya dihabiskan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat serta cenderung bermalas-malasan.
e. Pengecut. Tidak berani mengambil tindakan karena takut resiko, tidak ada semangat untuk membela diri sekalipun diperlakukan tidak wajar bahkan tidak adil oleh orang lain. Tidak memiliki sikap ‘iffah, harga diri dan naluri membela diri.
f. Kikir. Kikir berarti menahan sesuatu secara berlebihan untuk dirinya sendiri yang seharusnya diberikan kepada yang lebih perlu. Kekikiran bisa dalam bentuk harta, tenaga maupun pengetahuan. Tidak tergerak hatinya untuk memberi bantuan kepada orang lain walaupun dana dan daya tersedia pada dirinya.
g. Terbenam dalam lilitan hutang. Kehidupan yang tidak seimbang bisa menyebabkan seseorang terlilit hutang. Hidupnya tergadai sehinggga tidak merasa aman dan bebas, tidak enak makan dan nyenyak tidur karena memikirkan jalan keluar dari gangguan hutang.
h. Di bawah intimidasi atau paksaan orang lain, baik yang terang-terangan maupun tersembunyi. Dirinya dikuasai orang lain, tidak mempunyai kemampuan untuk menunjukkan hasrat dan minat dirinya, hidupnya selalu bergantung pada keinginan orang yang menguasai dirinya bahkan merasa khawatir jika yang berkuasa itu pergi meninggalkan dirinya.
Dengan memahami arti dan maksud dari do’a di atas; maka penting kiranya bagi setiap orang yang ingin melepaskan diri dari kemungkinan terjangkit 8 jenis penyakit rokhani yang dimaksud, selalu membaca do’a tersebut setiap pagi dan petang (setelah shalat shubuh dan maghrib) sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah saw.
Namun perlu diingat bahwa do’a saja tidak cukup, usaha dan upaya untuk berlepas diri dari 8 kondisi di atas harus diwujudkan dengan perbuatan nyata. Sehingga terjadi keseimbangan antara usaha / upaya dan do’a, karena antara keduanya ibarat dua sisi dari satu mata uang yang saling menentukan. Dalam masyarakat jawa ada pameo yang menyebutkan “sing sapa nggremet nglamet, sing sapa obah mamah, klinthing – klinthing oleh biting, klinthong – klinthong oleh genthong“, maksudnya kalau ingin mendapatkan sesuatu maka haruslah berusaha dengan sungguh-sungguh dan disertai do’a kepada sang Pencipta.
Kalau setiap muslim mau mengamalkan amalan Rasulullah tersebut, Insya Allah hidupnya akan penuh dengan barakah-Nya. Ketenangan, ketentraman, semangat dan rasa percaya diri akan menyertainya sehingga apa yang diinginkan dalam hidup ini dapat terwujud, termasuk diantara akan dibebaskan dari kesempitan hidup dan lilitan hutang yang membelenggu hidupnya.
Semoga tulisan sederhana ini dapat bermanfaat bagi sesama. Amien

Selasa, 05 April 2011

PENGHALANG TERKABULNYA DO’A


PENGHALANG TERKABULNYA DO’A
Oleh : H Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud.
Do’a merupakan bagian tak terpisahkan dari usaha dan ikhtiyar manusia untuk mencapai tujuan dalam kehidupannya, baik dalam kehidupan duniawi maupun ukhrawi. Permasalahan do’a tidak bisa dianggap remeh karena ikut menentukan kesuksesan seseorang dalam mencapai tujuan hidupnya. Agar do’a seseorang bisa terkabul dan berhasil guna maka ketika seseorang berdo’a hendaknya memperhatikan beberapa hal yang dapat menentukan apakah do’anya itu terkabul atau tidak. Allah SWT. telah memberikan pedoman bagaimana cara berdo’a yang benar
Allah SWT berfirman dalam Alqur-an :
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu telah berfrman : “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesunguhnya orang-orang yang (angkuh lagi) menyombongkan diri dari menyembah ( berdo’a ) kepada-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hinadina”. (QS. Al-Mukmin 60)

Pada ayat yang lain Allah juga berfirman
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka ( jawablah) bahwasanya Aku dekat. (Karena itu) Aku senantiasa mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon )kepada-Ku(, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala) perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. Al-Baqarah 186)
Sementara itu Rasulullah SAW telah bersabda :
أُدْعُواالله َوَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِالإِجَابَةِ, وَاعْلَمُوْا أَنَّ الله َلاَ يَسْتَجِيْبُوْا دُعَاءَ مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ وَلاَهٍ ( رواه الترمذى واالحاكم عن أبى هريرة )
“Berdo’alah kepada Allah, dan (hendaklah) kamu senantiasa yakin bahwa do’a itu dikabulkan (Allah), dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah tidak mengabulkan do’a orang yang hatinya sepi dari pengharapan lagi mengabaikan (kemurahan) Allah”.
Seorang Ulama besar dari Bashrah Syeikh Ibrahim bin Adham telah mengelompokkan penghalang terkabulnya do’a sebagai berikut :
1. Mengetahui dan meyakini adanya Allah SWT. tetapi tidak memenuhi hak-hak Allah ( malas beribadah kepada-Nya ).
2. Sering mempelajari dan membaca Alqur-an, tetapi tidak mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya
3. Senantiasa mengajak orang lain agar cinta kepada Rasulullah SAW. tetapi enggan menghidup-hidupkan sunnahnya
4. Menyatakan diri sebagai musuh syetan tetapi dalam kehidupan sehari-hari seringkali melakukan perbuatan syetan
5. Selalu berdo’a agar terhindar dari siksa api neraka, kenyataan-nya sering melakukan perbuatan yang dapat menjerumuskan dirinya ke jurang neraka
6. Selalu berdo’a agar Allah berkenan memasukkannya ke dalam surga tetapi tidak mau melaksanakan amal shaleh
7. Mengetahui dan meyakini bahwa kematian itu pasti datang tetapi tidak mau mempersiapkan diri untuk menyongsong kematian tersebut
8. Selalu sibuk mengurusi aib dan kekurangan orang lain tetapi tidak mau menengok dan menilai aib dan kekurangan diri
9. Selalu menerima dan menikmati anugerah kenikmatan dari Allah tetapi tidak bersyukur kepada-Nya
10. Sering ikut serta mengantar dan menguburkan janazah tetapi tidak mau mengambil i’tibar dari peristiwa tersebut
Dengan demikian, jika berdo’a kepada Allah hendaknya selalu mengingat dan mempersiapkan diri mengisi hidup ini dengan amal shalih. Mengingat segala dosa yang telah dilakukannya kemudian bertaubat kepada Allah dan tidak mengulangi lagi, karena menyadari bahwa kehidupan dunia ini kelak akan berakhir. Mempersiapkan diri menyongsong kematian dengan memohon ampunan dari segala dosa agar selamat dan mendapat kebahagian baik di dunia maupun di akhirat kelak, melaksanakan perintah - perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, sehingga sepuluh perkara yang menjadi penghalang terkabulnya do’a dapat dihindari. Berdo’a dengan khusyuk sambil merendahkan diri di hadapan Allah SWT. serta penuh harapan dan keyakinan bahwa Allah senantiasa mengabulkan permohonan hamba-Nya yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.
Selanjutnya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali telah memberikan gambaran bagaimana cara berdo’a yang benar, sehingga memungkinkan do’anya dikabulkan Allah SWT sebagai berikut :
1. Dalam keadaan berwudhu’
2. Menutup aurat ( zhahiran wa bathinan )
3. Menghadap ke arah kiblat sambil menengadahkan tangan ke langit
4. Berdo’a setelah selesai shalat fardhu
5. Berdo’a setelah shalat tahajjud
6. Pada saat sedang berpuasa selagi belum berbuka puasa
7. Didahului dengan melaksanakan amal shaleh
8. Tidak memakai pakaian yang diperoleh dengan cara yang haram
9. Tidak makan makanan yang subhat apalagi haram baik secara hakiki maupun sababiyah
10. Menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berbau ma’siyat dan munkarat.
Wallaahu a’lam bishshawab.

Jumat, 01 April 2011

LIMA KIAT SUKSES MENJALANI HIDUP DAN KEHIDUPAN


LIMA KIAT SUKSES MENJALANI HIDUP DAN KEHIDUPAN
Oleh: H Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud.
Secara normal dan menurut pemikiran yang realistis, semua manusia dalam menjalani hidup dan kehidupan seharusnya berkeinginan mencapai KESUKSESAN GANDA, sukses di dunia dengan tercapai KESEHTERAAN HIDUP selama menjalani kehidupan, dan sukses di akhirat dengan memperoleh KEMULIAAN dan KEBAHAGIAAN.
Untuk mencapai kesuksesan tersebut, sudah barang tentu dibutuhkan beberapa strategi (kiat sukses), kiat sukses macam apa yang dibutuhkan manusia dalam menjalani kehidupannya. Untuk memberikan gambaran tentang hal tersebut, simaklah sabda Rasulullah berikut ini:
Ibu Umar R.A. bercerita:
أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ: (( كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ )).
Rasulullah SAW. merangkul pundakku, lalu beliau bersabda: “Hiduplah kamu di dunia ini seakan-akan (kamu ini adalah) perantau atau pengembara (musafir)”~ (HR. Bukhari)
Rasulullah memberikan pesan luhur kepada ummatnya melalui shahabat Abdullah ibnu Umar ibnul-Khaththab RA. agar dalam menjalani hidup dan kehidupan seolah-olah dirinya adalah orang yang sedang melakukan perjalanan atau merantau. Ibarat perantau, maka orang menjalani hidup dan kehidupan harus memiliki kiat sukses. Kandungan dari hadits tersebut adalah bahwa manusia harus memiliki lima kiat sukses dalam hidupnya, yakni sebagai berikut:
1. Memiliki TUJUAN HIDUP yang jelas
2. Memiliki BEKAL HIDUP yang lengkap
3. Memiliki PEDOMAN HIDUP yang jelas
4. Memiliki TEMAN HIDUP yang tepat
5. Memiliki CITA-CITA HIDUP yang jelas

TUJUAN HIDUP MANUSIA ADALAH UNTUK BERIBADAH
Allah menciptakan manusia untuk satu tujuan yang pasti, yakni untuk beribadah dan melaksanakan ketaatan kepada Allah dan istiqamah (ada rutinitas) dalam melaksanakannya. Oleh karena itu setiap aktifitas yang dilakukan manusia harus bersesuaian dengan tujuan Allah menciptakan dirinya, yakni dengan tujuan beribadah kepada Allah.
Ibadah yang harus dilaksanakan manusia adalah dua macam (jalur), yaitu:
1. Ibadah yang berhubungan langsung dengan hak-hak ALLAH, seperti : shalat, zakat, puasa dan haji, selanjutnya yang disebut dengan HABLUN MINALLAH.
2. Ibadah yang berhubungan dengan hak-hak sesama manusia, seperti : tolong menolong, silaturrahim, hidup sebagai saudara diantara sesama, selanjutnya yang disebut dengan HABLUN MINANNAS.

BEKAL HIDUP MANUSIA ADALAH TAQWA KEPADA ALLAH SWT.
Setiap melakukan perjalanan atau pengembaraan termasuk di dalamnya menjalani hidup dan kehidupan diperlukan adanya bekal yang cukup. Jika menjalani kehidupan yang bersifat KEDUNIAAN maka bekal yang di butuhkan adalah berkal yang nuansanya duniawi. Demikian pula dalam perjalanan ruhani manusia, maka dibutuhkan bekal yang mempunyai nilai-nilai ruhani (ukhrawi).
Firman Allah SWT :
وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُوْلِي الأَلْبَابِ
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. (Al-Baqarah: 197)
Di ayat tersebut Allah memyuruh manusia agar membawa bekal (dalam perjalanannya), dan bekal yang terbaik adalah BERTAQWA kepada Allah. Adapun penjabaran taqwa adalah sebagai berikut:
1. TAWADHU : melaksanakan perintah dan menjauhi larangan
2. QANA’AH : menerima karunia dengan penuh keikhlasan
3. WIRA’I : eling lan waspada (stiti, nastiti lan ngati-ati = memiliki kewaspadaan dan kepekaan terhadap hal-hal yang dapat menjerususkan dirinya ke jalan yang kelam dan menyesatkan)
4. YAKIN : keyakinan dalam dirinya bahwa apapun yang diperbuat manusia tidak ada satupun yang lepas dari pengawasan dan perhitungan ALLAH

PEDOMAN HIDUP MANUSIA ADA YANG MUTLAK HARUS DI TAATI DAN ADA YANG TIDAK MUTLAK HARUS DITAATI
1. Pedoman hidup yang mutlak harus ditaati adalah Alqur-an dan Sunnah Rasulullah SAW.
Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan pedoman hidup manusia yang apabila manusia senantiasa berpegang teguh kepada keduanya, niscaya manusia tidak akan pernah tersesat selamanya.
Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda :
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُوْلِهِ
”Aku tinggalkan (wariskan) untuk kalian dua perkara, yang kalian tidak akan (pernah) tersesat selamanya (manakala senantiasa berpegang teguh kepada keduanya), yakni Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya (As-Sunnah)”~ (HR. Al-Hakim dari Abu Hurairah RA.)
2. Pedoman hidup yang tidak mutlak harus di taati adalah yang dibuat oleh manusia.
Selain Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagai bangsa yang memiliki tatanan kehidupan dan aturan yang mengatur tata kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, maka umat Islam di Indonesia juga memiliki pedoman hidup yang lain, yakni yang mengatur urusan keduniaan semata-mata. Tetapi pedoman hidup ini tidaki mutlak harus diikuti dan dipatuhi, karena pedoman hidup di buat oleh manusia. Karena dibuat oleh manusia, maka berbagai kemungkinan pembuatannya ada yang bertentangan dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Jika demikian, maka tidak ada keharusan untuk mematuhinya, karena jika maematuhinya akan bertentangan dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

TEMAN HIDUP MANUSIA YANG PALING BAIK ADALAH TEMAN YANG BERSIFAT KEKAL
1. Teman yang hanya mengantarkan sampai memasuki sakaratul maut (HARTA, PANGKAT, JABATAN DAN KEDUDUKAN)
2. Teman yang mengantarkan sampai masuk liang lahat (KERABAT, SAHABAT, DAN TETANGGA)
3. Teman yang mengantarkan sampai ke alam keabadian (AMAL SHALEH)

CITA-CITA HIDUP MANUSIA
 Sejahtera dan bahagia di dunia dengan tercukupi semua kebutuhan baik untuk kehidupan dunia maupun sarana untuk beramal shaleh
 Terjamin keselamatan dan kebahagiaan hidup di akhirat dengan terwujudnya keiatiqamahan dalam melaksanakan amal shaleh dan mampu menghindari maksiat dan kebathilan
Wallaahu a’lam bishshawab, semoga bermanfaat untuk bahan kajian bersama menuju tercapainya KESUKSESAN GANDA.

Kamis, 31 Maret 2011

BERSIKAP SABAR


BERSIKAP SABAR
Oleh: H Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud.
Kehidupan di dunia ini melalui berbagai fase, di mana kadang kala harus berada di bawah dan di suatu saat berada di atas. Inilah kehidupan yang harus dijalani dan bukan untuk dihindari. Kondisi ini tentu mengakibatkan adanya dua kutub yang saling bertentangan, yaitu baik dan buruk, yang ma’ruf dan yang mungkar.
Dalam menghadapi semua itu diperlukan kekuatan mental yang kokoh, sebab tanpa adanya kekuatan tersebut seseorang akan diombang-ambingkan oleh tipu daya setan. Apalagi di saat persaingan hidup begitu kuat, perburuan materi menjadi barang yang utama, menyebabkan berbagai persoalan hidup makin pelik. Sebagai seorang Muslim dalam menyikapi berbagai gejolak hidup yang tak jarang membelit kehidupan setiap orang, maka diperlukan sebuah kesabaran, keikhlasan dann menerima segalanya dengan tabah dalam menghadapinya. Allah swt. berfirman:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطاً
“Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini: dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”(Q.S. Al-Kahfi: 28)
Setiap muslim harus menyadari bahwa kehidupan ini penuh dengan persoalan, sehingga sikap sabar diperlukan sebagai benteng pertahanan jiwa seseorang, sebab hanya dengan kesabaran tersebut saeseorang akan mampu melepaskan diri dari rasa keputusasaan. Allah senantiasa menyuruh hamba-Nya untuk bersabar dalam melakukan suatu pekerjaan di dunia agar dapat memperoleh keuntungan hidup. Kesabaran diperkuat dengan jalan selalu meningkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya yang berbunyi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiaga dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (Q.S. Ali Imron: 200)
Dari ayat-ayat di atas dapatlah dimaknai sebagai petunjuk agar manusia senantiasa bersabar dalam menghadapi hidup, dengan memohon pertolongan hanya kepada Allah ta’ala. Sikap sabar harus senantiasa diikuti dengan pelaksanaan ibadah/ shalat. Keduanya merupakan sebuah keharusan yang saling terkait, sehingga sabar tanpa ibadah tidak akan berarti dan ibadah tanpa sabar juga tidak akan berbekas.
Kesadaran bahwa tidak keberhasilan yang diperoleh dengan begitu saja adalah sangat penting sehingga akan dapat memicu setiap muslim untuk lebih gigih dalam berusaha. Keyakinan bahwa di dalam kesulitan dan cobaan selalu akan muncul kemudahan adalah modal yang harus senantiasa dipelihara dalam setiap diri agar kegigihan dalam meraih hidup dapat dicapai. Allah ta’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ . الَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ .
“Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan innalillaahi wa innaa ilaihi raaji’un.” (Q.S. Al-Baqarah: 155-156)
Dengan sikap sabar seseorang akan memperoleh kemenangan, kemudahan dan keberhasilan. Sehingga amat disayangkan bagi mereka yang tidak mampu berbuat sabar dan selalu mengeluh dalam menghadapi persoalan kehidupan. Oleh karena itu, setiap orang harus bias menunjukkan kesabaran dalam menghadapi hidup dengan jalan meningkatkan ibadah kepada Allah, meningkatkan amal sholeh dan menjauhi segala larangan yang telah ditegaskan oleh Allah swt.
Selanjutnya sikap sabar itu ditanamkan pada generasi muda agar mereka juga mempunyai keinginan dan kemampuan yang kuat dalam menghadapi bahtera kehidupan ini. Sebagaimana yang telah diketahui bersama, banyak sekali remaja masa kini yang suka mengeluh dan mudah putus asa dalam menhadapi hidup sehingga mereka yang tidak sabar sering hanya mencari jalan pintas dan menghalalkan berbagai cara. Kondisi patah arah yang melanda banyak generasi muda zaman sekarang tentu menjadi pekerjaan rumah bagi para orang tua untuk bersama-sama menyadarkan dan membimbing mereka agar senantiasa berbuat sabar dalam menghadapi persoalan hidup ini.
Jangan biarkan generasi muda Islam terjerumus ke dalam pencarian jalan pintas yang akan menggiring mereka ke alam khayal, karena di tangan merekalah masa depan bangsa ini akan berada. Maka dari itu sebagai orang tua yang baik, mereka wajib memberikan pengertian tentang perintah dan larangan-Nya serta menanamkan semangat hidup yang penuh antusias dalam menghadapi hidup ini. Allah swt. berfirman:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافاً خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيداً
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S. An-Nisa: 9)
Sabar adalah sikap mulia yang disukai Allah, dengan kesabaran seseorang tidak akan menjadi lemah jiwa. Semangatnya akan selalu kuat dan tidak mudah patah arang. Dan kesabaran itu adalah bagian dari bukti taqwa serta iman seseorang. Sebagaimana firman Allah:
وَكَأَيِّن مِّن نَّبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُواْ لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَمَا ضَعُفُواْ وَمَا اسْتَكَانُواْ وَاللّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
“Dan berapa banyak nabi yang perang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Q.S. Ali Imran: 146)
Jadi nyatalah bahwa sabar adalah sifat yang utama, sebab dari kesabaran akan tumbuh jiwa yang kuat yang akan menghantarkan seseorang ke arah kemenangan.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Q.S. Fushshilaat: 35)
Menunjukkan sikap sabar dalam kehidupan sehari-hari merupakan satu keharusan, karena di balik kesabaran akan tercipta sebuah kemudahan. Karena Allah SWT. tidak akan pernah mengabaikan hamba-Nya yang senantiasa sabar dalam menjalani hidup dan kehidupan dan Allah-pun juga telah berjanji akan selalu mendampingi orang yang memiliki kesabaran dalam perjalanan hidup mereka.
Wallaahu a’lam bishshawaab…..

Jumat, 18 Maret 2011

DBKS dan Manasik Haji











Selasa, 18 Januari 2011

KIAT – KIAT MEMPERERAT CINTA SUAMI ISTRI *)



SEPULUH KIAT MEMPERERAT CINTA SUAMI ISTRI
Oleh: H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud
Rasulullah SAW. berpesan kepada umatnya agar dalam menjalani hidup dan kehidupan dapat terwujud kehidupan yang bahagia atau sa’adah.Untuk itulah maka Rasulullah memberikan nasehat dalam sabdanya :
أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ الْمَرْءِ أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً وَأَوْلاَدُهُ أَبْرَارًا وَحُلَطَاؤُهُ صَالِحِيْنَ وَأَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ فِى بَلَدِهِ
”Ada empat perkara (termasuk) di antara (penyebab) KEBAHAGIAAN HIDUP seseorang yakni ; apabila ia memiliki ISTRI SHALIHAH (penulis: jika perempuan memiliki suami yang shaleh), ANAK-ANAKnya BERBAKTI, dan masyarakat LINGKUNGANnya terdiri dari orang-orang yang SHALEH serta RIZKInya berada di negerinya sendiri (tidak jauh dari rumah tempat tinggalnya)
Disamping nasihat tersebut, juga harus didukung oleh adanya kiat-kiat bagaimana mempererat cinta antara suami dan istri.
Ada SEPULUH KIAT bagaimana mempererat CINTA antara SUAMI dan ISTRI :
1. SALING MEMBERI HADIAH.
Hadiah adalah pemberian dengan tujuan untuk memberikan penghormatan kepada orang lain karena prestasi yang dicapainya. Tetapi bisa juga hadiah diberikan kepada seseorang bukan karena prestasi tapi karena ingin memberikan rasa senang dan bahagia. Dalam kehidupan rumah tangga seorang suami suatu saat perlu memberikan hadiah kepada istri, demikian pula sebaliknya. Hadiah bisa diberikan kapan saja tergantung pada situasa dan kondisi, bisa juga pada hari-hari tertentu yang ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi yang mengiringi perjalanan hidupnya
Rosulullah bersabda : “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling cinta mencintai”. (HR. Bukhari Muslim).
2. MENGHUSUSKAN WAKTU UNTUK DUDUK BERSAMA.
Duduk bersama atau bercengkrama dalam satu keluarga termasuk bagian dari kegiatan rekreatif yang bisa menumbuhkan jalinan cinta kasih antara sesama anggota rumah tangga, khususnya antara sepasang suami istri. Dari duduk bersama itu bisa lahir ide-ide baru yang bisa dilaksanakan bersama terutama dalam rangka meningkatkan kwalitas rumah tangga dan keharmonisan hubungan antara suami istri
Rosulullah bersabda : “Orang yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya diantara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang berbuat baik kepada istri-istri kalian”. (HR. Tirmidzi).
3. MENAMPAKKAN WAJAH YANG CERIA.
Menampakkan wajah yang ceria dan berseri-seri kepada setiap orang adalah gambaran keikhlasan hati yang ada di dalam dirinya. Jika dalam pergaulan antara sepasang suami istri dalam segala situasi selalu bisa menampakkan wajah berseri-seri dan keceriaan ketika sedang bertemu dan berbincang-bincang, maka dapat dipastikan bahwa di dalam hati keduanya akan terdapat keikhlasan dan ketulusan dalam menerima pasangannya apa adanya, menerima kelebihan yang dimiliki pasangannya dan bersyukur kepada Allah karenanya, dan menerima kekurangan pasangannya dengan penuh keikhlasan dan kesadaran dan berusaha untuk menutupi kekurangan itu dengan kelebihan yang dimiliki serta selalu sabar dan tawakkal kepada Allah dalam menerima kekurangan pasangannya itu.
Rasulullah bersabda : “ Sedikitpun janganlah engkau menganggap remeh perbuatan baik, walaupun hanya sekedar menampakkan wajah ceria ketika engkau berjumpa dengan saudaramu” (HR. Muslim).
4. MEMBERIKAN PENGHORMATAN YANG HANGAT PADA ISTRINYA.
Kontak fisik yang positif seperti saling berciuman secara rutin antara suami istri sangat diperlukan karena di dalam akan menimbulkan getaran kemesraan yang bermuara kepada kasih sayang antara keduanya. Sedangkan kasih sayang adalah buah dari pernikahan yang dilandasi dengan niat beribadah kepada Allah dalam bingkai TAQWALLAH.
Firman Allah SWT.:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum:21)
Banyak hadits yang meriwayatkan bagaimana ciuman Rasulullah kepada istri-istri beliau, dalam berbagai hal dan peristiwa, bahkan Rasulullah pernah menyempatkan mencium istrinya ketika akan berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat, sebagaimana yang disampaikan Aisyah RA.: ”Adalah Rasulullah SAW. mencium istrinya (ketika akan berangkat shalat) dan beliau tidak memperbaharui wudhu’nya” (H.R. Bukhari).
5. HENDAKLAH MEMUJI PASANGANNYA.
Jumhur Ulama’ sepakat pujian dibolehkan bahkan dianjurkan dengan syarat : untuk memberikan motivasi, pujian itu diungkapkan dengan jujur dan tulus, dan pujian itu tidak menyebabkan orang yang dipuji menjadi sombong atau lupa diri. Dan pujian itu untuk mengagungkan Allah melalui kekaguman pada kelebihan pasangannya yang merupakan karunia Allah.
Segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam. Yang perlu difahami disini adalah bahwa ada beberapa bentuk pujian yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, baik dalam hubungannya dengan Allah maupun dalam hubungannya dengan sesama hamba Allah.
Bentuk-bentuk pujian itu sebagai berikut:
• Pujian Allah kepada dirinya sendiri
• Pujian Allah kepada hamba-Nya yang taat dan istiqamah dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya.
• Pujian seorang hamba kepada Rabb-nya (Allah SWT) dalam rangka mengagungkan dan mensucikan asma-Nya.
• Pujian seorang hamba kepada sesama hamba Allah, sebagai perwujudan kekaguman kepada ke-Maha Sempurna-an Allah akan ciptaan-Nya
Dalam konteks yang terakhir inilah terletak kebolehan seorang suami memuji sang istri dan sebaliknya. Tetapi pujian itu perlu disampaikan dengan penuh kehati-hatian agar tidak menimbulkan ujub, sombong dan takabbur. Hendaknya pujian itu disampaikan masih dalam bingkai ”SEGALA PUJI HANYA MILIK ALLAH”.
6. BERSAMA-SAMA MELAKUKAN TUGAS YANG RINGAN.
Nabi melakukan tugas-tugas dirumah seperti menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sandal dan lain-lainya. Dan itu merupakan realisasi dari perintah Allah dalam firman-Nya yang berbunyi:
وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
”(saling) Tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) KEBAJIKAN dan TAQWA, dan janganlah kamu (saling) tolong menolong dalam hal DOSA dan PERMUSUHAN, Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”~ (QS. Al-Maidah:3).
Seorang suami jangan alergi dan merasa rendah diri karena malaksanakan pekerjaan istri seperti mencuci pakaian, asah-asah (mencuci peralatan dapur), dan merawat bayi atau balita yang umumnya dikerjakan oleh seorang istri. Demikian pula seorang istri jangan merasa terbebani karena harus melaksanakan pekerjaan harian yang semestinya dikerjakan oleh seorang suami.
7. UCAPAN YANG BAIK dan SIKAP SANTUN .
Bertutur kata yang baik merupakan perintah Allah yang tertulis dalam Alqur-an, sebagaimana firman Allah yang berbunyi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً .
”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”~ (QS. Al-Ahzab: 70-71)
Pada ayat tersebut digambarkan bahwa bertutur kata yang baik tidak saja menimbulkan rasa nyaman bagi lawan bicaranya, tatapi juga memberikan dampak positif bagi para pelakunya, karena dapat memberikan nilai pahala dan juga ampunan dari Allah karena kebaikan sikapnya itu. Karena itu hindari mengucap kalimat yang tidak baik bahkan menyakitkan. Kaitannya dengan itu Rasulullah SAW.-pun bersabda :
إِنَّ خَِيَارَكُمْ خِيَارُكُمْ لِأَهْلِهِمْ وَأَلْطَفُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
~“Orang yang paling baik diantaramu adalah orang yang paling baik sikapnya pada keluarga dan paling lembut dan santun pada istrinya”~ (H.R. Muslim).
Sabda Rasulullah ini berarti pula berlaku bagi para istri pada suaminya.
8. REKREASI BERDUA TANPA MEMBAWA ANAK.
Rutinitas kegiatan yang dilaksanakan dalam kehidupan rumah tangga kadang menimbulkan kejenuhan. Kondisi seseorang yang berada dalam puncak titik jenuh sering menimbulkan persoalan tersendiri, bahkan bisa menimbulkan kebosanan. Kebosanan dalam kehidupan rumah tangga dan hubungan suami istri, akan sangat sangat berbahaya bagi kelangsungan keutuhan suatu keluarga. Karena itu kejenuhan itu jangan dibiarkan berlangsung lama. Carilah segera selusinya, misalnya dengan kegiatan yang bersifat rekreatif, bahkan bisa dengan rekreasi berdua tanpa harus melibatkan atau membawa anak. Dalam rekreasi itulah bisa saling muhasabah, menilai perjalanan hidup bersama yang telah dilaluinya selama ini. Mencari sisik melik kekurangan dan kelebihan dalam mengarungi behtera kehidupan, serta mencari cara bagaimana mempertahankan yang sudah baik dan cara memecahkan persoalan yang belum teratasi serta mencari cara bagaimana cara melengkapi kekurangan. Dalam rekreasi itu pula tidak tertutup kemungkinan dapat dikektemukan cara baru untuk meningkatkan kwalitas rumah tangga
Tujuan rekreasi berdua tanpa membawa anak adalah untuk membunuh kejenuhan, mengenang kembali saat perkenalan dan untuk semakin merekatkan rasa kasih sayang diantara keduanya. Bukankah saling menyayangi adalah anjuran Rasulullah sebagaimana dalam sabdanya :
~”Sayangilah yang ada di bumi maka kalian akan disayangi oleh yang ada di langit”~ (Muhammad Rasulullah SAW).
9. MEMPUNYAI RASA EMPATI PADA PASANGANNYA.
Rasa Empati merupakan refleksi dari rasa cinta antara keduanya dan saling mencintai adalah tuntunan dan tuntutan dalam pergaulan hidup suami istri sekaligus sebagai tolak ukur kesempurnaan iman. Sabda Rasulullah SAW. :
~”Tidaklah beriman seseorang diantaramu sehingga ia mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”~ (H.R.Bukhari dan Muslim).
Maksud yang terkandung dari pengertian mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri adalah berusaha untuk bisa memberikan kepada orang lain segala yang dia inginkan untuk dirinya sendiri dan tidak memberikan kepada orang lain segala sesuatu yang ia sendiri tidak pernah mengharapkannya bahkan membencinya. Misalnya, setiap orang pasti menginginkan agar dirinya dihormati, dihargai, dimulyakan dan dicintai dan tidak mau jika ia dilecehkan, dihinakan, diremehkan, dibenci dan tidak dihargai. Cobalah berusaha agar seorang suami atau istri bisa memberikan apa yang diharapkannya itu kepada orang pasangannya terlebih dahulu seperti; menghormati, menghargai, memuliakan dan mencintainya. Dan tidak memberikan apa yang tidak pernah ia harapkan seperti; tidak melecehkan, tidak mebghinakan, tidak meremehkan dan tidak memberncinya serta jangan sampai tidak menghargainya. Maka Insya Allah, hubungan antara suami isrti itu akan harmonis karena ada empati antara keduanya
10. PERLU ADANYA KETERBUKAAN.
Jangan sampai memendam masalah hingga bertumpuk atau jangan sampai kran komunikasi suami istri tersumbat. Memendam masalah akan menimbulkan kebuntuan hati yang akan berakibat munculnya kebencian, ketidak puasan bahkan kemarahan antar suami istri, saling menyalahkan dan sulit untuk saling mengakui kesalahan dan memaafkan. Pada akhirnya ketaqwaan akan sirna dari keduanya.
Allah SWT. berfirman:
وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ . الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ . وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”~ (QS. Ali Imran: 133-135)
Semoga tulisan bisa menjadi bahan bacaan yang berarti bagi termujudnya keluarga SAKINAH, MAWADDAH dan RAHMAH. Kepada Yang saya hormati Fariq Gasim semoga ilmu yang menjadi landasan pengembangan tulisan ini, menjadi bagian dari ilmu yang bermanfaat bagi sesame dan menjadikan jalan menuju kemuliaan sejati disisi Allah bagi beliau di dunia dan di akhirat, aamiin.
*) Disarikan dari buku Lautan Cinta, Fariq Gasim, Darul Qolam, 2005. Diberi tambahan dan disajikan oleh H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud, pada penataran Calon Temanten di KUA. Kecamatan Depok Kabupaten Sleman, bulan Nopember 2010.

Rabu, 05 Januari 2011

Menggapai Derajat Muttaqin


Menggapai Derajat Muttaqin
Oleh: H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (QS. Ali Imran: 102)
Meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT dengan selalu mentaati dan menunaikan segala yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang oleh-Nya dengan penuh kesadaran, kesabaran dan keikhlasan hati karena Allah semata, merupakan tuntutan Ilahi dan keharusan bagi setiap manusia, karena dengannya setiap hamba Allah memperoleh peluang terbukanya berbagai pintu karunia Allah untuknya
Mengenai pengertian taqwa, oleh para ulama telah dirumuskan dalam beberapa definisi. Diantaranya ada yang mengatakan bahwa taqwa adalah melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Ada pula yang mengatakan bahwa taqwa adalah berlindung dan taat kepada Allah dari hukuman-hukuman-Nya. Sebagian ulama yang lain merumuskan bahwa taqwa adalah menjaga diri dari segala hal yang mengandung hukuman Allah.
Dalam pengertian yang lain, taqwa ialah menghindarkan diri dari segala sesuatu yang menjauhkan diri dari Allah. Selain itu, ada pula yang menyatakan bahwa taqwa juga berarti tata karma syariat. Taqwa pada ketaatan berarti ikhlas, dan pada maksiat berarti tidak melakukannya. Dan masih banyak definisi taqwa yang lain.
Allah SWT mensifati orang-orang yang bertaqwa, sebagaimana yang tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat kedua sampai keempat, yaitu : Mereka yang beriman kepada yang gaib, percaya pada yang gaib berarti mengiktikadkan adanya sesuatu “yang maujud” yang tidak dapat diungkap oleh pancaindera, karena ada dalil yang menunjukkan tentang hal itu, seperti adanya Allah, para Malaikat, Hari akhirat dan lain sebagainya ; yang mendirikan salat ( menunaikannya secara teratur dengan melengkapi syarat-syarat, rukun-rukun adab-adabnya ; yang menafkahkan sebagian rezeki yang Allah anugerahkan kepada mereka ;mereka yang beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya; dan mereka yang meyakini adanya hari akhir.
Kalau diperhatikan beberapa rumusan definisi tentang taqwa dan sifat-sifat orang-orang yang bertaqwa sebagaimana yang telah disebut di atas, tidak ada yang menyebutkan tentang ras, golongan, maupun status. Tidak disebutkan yang termasuk dalam kategori orang yang bertaqwa adalah mereka yang berkulit putih, sawo matang atau kulit hitam, atau mereka yang bertaqwa adalah golongan A, golongan B ataupun golongan yang lainnya, dan tidak pula dikatakan mereka yang termasuk golongan yang bertaqwa adalah yang kesehariannya memakai jubah, surban atau yang berpakaian biasa-biasa saja. Sebab, semua itu tidak termasuk dalam kriteria taqwa, sebagaimana yang menjadi ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah SWT.
Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.. “( QS. Al-Hujuarat : 13 )
Setiap orang yang beriman berkemungkinan untuk dapat mencapai derajat sebagai orang yang bertaqwa(muttaqin), yang berkedudukan sebagai orang yang paling mulia di sisi Allah SWT. Semua orang mempunyai kesempatan untuk menjadi orang yang paling mulia di sisi Allah, baik orang arab maupun non arab, orang jawa, orang cina, yang kaya dan yang miskin, yang tua ataupun yang muda, semuanya mendapat kesempatan yang samauntuk mencapai derajat muttaqin. Sebuah predikat yang paling tinggi dan mulia karena mendapat legitimasi langsung dari Allah SWT baik di dunia kini, maupun di akhirat kelak. Dan dia itu termasuk orang yang mendapat petunjuk dari Allah dan orang yang beruntung.
Derajat yang begitu mulia dan tinggi, tentu tidak akan dapat dicapai begitu saja secara cuma-cuma, tanpa disertai ilmu amal dan istiqamah. Perhatikanlah Qaulul Hukama berikut ini :
“Taqwa adalah terpadunya antara ilmu, amal dan istiqamah. Orang yang tidak tahu (bodoh) tentang perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya tidak akan menjadi orang yang bertaqwa. Orang yang berilmu (tentang perintah-perintah dan arangan-larangan Allah) yang tidak mengamalkan ilmunya itu juga tidak akan dapat menyandang predikat sebagai orang yang bertaqwa. Demikian juga orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya yang tidak istiqamah juga tidak bisa disebut sebagai orang yang bertaqwa, melainkan ia menjadi orang yang merugi dan tidak meningkat kedudukannya.”~ (Hukama)
Dengan demikian jelaslah bahwa untuk dapat menggapai derajat muttaqin maka, seorang muslim harus menguasai ilmu. Sebab, seseorang tidak akan mungkin dapat mencapai sesuatu tingkat kemuliaan tanpa didasari ilmu. Bagaimana seseorang dapat melaksanakan sesuatu kalau dia tidak tahu apa yang harus dikerjakan?. Demikian juga dengan taqwa, bagaimana seseorang akan berpredikat sebagai muttaqin, jika tidak tahu jalan menuju taqwa. Bagaimana mungkin seseorang akan melaksanakan perintah Allah jika ia tidak tahu apa yang diperintahkan oleh Allah dan teknis pelaksanaan yang berkaitan dengannya. Begitu juga sebaliknya, bagaimana seseorang akan menjauhi larangan Allah, jika ia tidak tahu apa saja yang dilarang oleh Allah. Maka pengetahuan tentang perintah dan larangan inilah yang mula-mula harus dikuasai, dan wajib hukumnya bagi setiap muslim mempelajari tentang perintah dan larangan Allah. Bahkan yang berilmu dan tidak mengamalkan ilmunya, ia tidak akan dapat mencapai derajat yang mulia di sisi Allah, melainkan ia bertambah menjauh dari Allah SWT.
Dalam suatu riwayat Rasululllah SAW menjelaskan bahwa orang yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah hidayahnya, maka orang tersebut tidak akan mendapatkan tambahan apapun dari Allah kecuali semakin jauh dari-NYA.
Adapun beberapa keutamaan bagi orang yang bertaqwa disebutkan di banyak tempat di dalam Alqur-an. Diantaranya adalah yang diuraikan sendiri oleh Allah SWT. dalam surat Ath-Thalaq sebagaimana uraian berikut ini:
Balasan bagi orang yang bertaqwa kepada Allah, maka kesalahan-kesalahannya akan terampuni dan Allah akan memberinya pahala yang besar.
Allah SWT berfirman :
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْراً
Artinya : "Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.”(QS. Ath-Thalaq : 5)
Di samping itu, orang yang bertaqwa itu juga akan mendapat kemudahan dan jalan keluar yang baik dan dianugerahi Allah rezeki dari arah tak terduga-duga. Perhatikanlah ayat-ayat berikut ini :
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Artinya :“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.“(QS. AthThalaq : 2-3)
Dan di akhir ayat selanjutnya disebutkan :
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً
Artinya : “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”(QS. Ath-Thalaq : 4)
Dan di akhirat kelak, orang yang bertaqwa itu mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah, di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan. Sebagaimana firman Allah SWT berikut ini :
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِّن مَّاء غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِن لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ
Artinya : “Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka. “(QS. Muhammad : 15)
Dari uraian ini, mudah-mudahan pembaca dapat mengambil hikmahnya, dan mengamalkan kebaikannya, sehingga benar-benar termasuk golongan orang yang bertaqwa kepada Allah SWT yang mendapatkan kemuliaan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, aamiin.