Paduan Suara Mars DBKS

Paduan Suara Mars DBKS Desa Maguwoharjo Kecamatan Depok sedang menyayikan Mars DBKS dalam acara evaluasi lomba DBKS Tingkat Kabupaten Sleman.

Tamu Undangan Muspika Depok

Tamu undangan dari unsur Muspika kecamatan Depok sedang menghadiri acara evaluasi loma DBKS Desa Maguwoharjo tingkat kabupaten Sleman

Bimbingan Manasik Haji

H. Muhammad Chaeruddin sedang memberikan penjelasan dan materi dalam rangka manasik haji kecamatan Depok kabupaten Sleman

Praktik Manasik Haji

Para jamaah calon haji kecamatan Depok sedang melaksanakan praktik manasik haji untuk menyempurnakan materi yang diterima secara teoretis

Administrasi Manasik Haji

Untuk mewujudkan pelaksanaan bimbingan manasik haji di Tingkat Kecamatan Depok, harus ditunjang dengan administrasi yang efektif dan efiesien

Selasa, 18 Januari 2011

KIAT – KIAT MEMPERERAT CINTA SUAMI ISTRI *)



SEPULUH KIAT MEMPERERAT CINTA SUAMI ISTRI
Oleh: H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud
Rasulullah SAW. berpesan kepada umatnya agar dalam menjalani hidup dan kehidupan dapat terwujud kehidupan yang bahagia atau sa’adah.Untuk itulah maka Rasulullah memberikan nasehat dalam sabdanya :
أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ الْمَرْءِ أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً وَأَوْلاَدُهُ أَبْرَارًا وَحُلَطَاؤُهُ صَالِحِيْنَ وَأَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ فِى بَلَدِهِ
”Ada empat perkara (termasuk) di antara (penyebab) KEBAHAGIAAN HIDUP seseorang yakni ; apabila ia memiliki ISTRI SHALIHAH (penulis: jika perempuan memiliki suami yang shaleh), ANAK-ANAKnya BERBAKTI, dan masyarakat LINGKUNGANnya terdiri dari orang-orang yang SHALEH serta RIZKInya berada di negerinya sendiri (tidak jauh dari rumah tempat tinggalnya)
Disamping nasihat tersebut, juga harus didukung oleh adanya kiat-kiat bagaimana mempererat cinta antara suami dan istri.
Ada SEPULUH KIAT bagaimana mempererat CINTA antara SUAMI dan ISTRI :
1. SALING MEMBERI HADIAH.
Hadiah adalah pemberian dengan tujuan untuk memberikan penghormatan kepada orang lain karena prestasi yang dicapainya. Tetapi bisa juga hadiah diberikan kepada seseorang bukan karena prestasi tapi karena ingin memberikan rasa senang dan bahagia. Dalam kehidupan rumah tangga seorang suami suatu saat perlu memberikan hadiah kepada istri, demikian pula sebaliknya. Hadiah bisa diberikan kapan saja tergantung pada situasa dan kondisi, bisa juga pada hari-hari tertentu yang ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi yang mengiringi perjalanan hidupnya
Rosulullah bersabda : “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling cinta mencintai”. (HR. Bukhari Muslim).
2. MENGHUSUSKAN WAKTU UNTUK DUDUK BERSAMA.
Duduk bersama atau bercengkrama dalam satu keluarga termasuk bagian dari kegiatan rekreatif yang bisa menumbuhkan jalinan cinta kasih antara sesama anggota rumah tangga, khususnya antara sepasang suami istri. Dari duduk bersama itu bisa lahir ide-ide baru yang bisa dilaksanakan bersama terutama dalam rangka meningkatkan kwalitas rumah tangga dan keharmonisan hubungan antara suami istri
Rosulullah bersabda : “Orang yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya diantara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang berbuat baik kepada istri-istri kalian”. (HR. Tirmidzi).
3. MENAMPAKKAN WAJAH YANG CERIA.
Menampakkan wajah yang ceria dan berseri-seri kepada setiap orang adalah gambaran keikhlasan hati yang ada di dalam dirinya. Jika dalam pergaulan antara sepasang suami istri dalam segala situasi selalu bisa menampakkan wajah berseri-seri dan keceriaan ketika sedang bertemu dan berbincang-bincang, maka dapat dipastikan bahwa di dalam hati keduanya akan terdapat keikhlasan dan ketulusan dalam menerima pasangannya apa adanya, menerima kelebihan yang dimiliki pasangannya dan bersyukur kepada Allah karenanya, dan menerima kekurangan pasangannya dengan penuh keikhlasan dan kesadaran dan berusaha untuk menutupi kekurangan itu dengan kelebihan yang dimiliki serta selalu sabar dan tawakkal kepada Allah dalam menerima kekurangan pasangannya itu.
Rasulullah bersabda : “ Sedikitpun janganlah engkau menganggap remeh perbuatan baik, walaupun hanya sekedar menampakkan wajah ceria ketika engkau berjumpa dengan saudaramu” (HR. Muslim).
4. MEMBERIKAN PENGHORMATAN YANG HANGAT PADA ISTRINYA.
Kontak fisik yang positif seperti saling berciuman secara rutin antara suami istri sangat diperlukan karena di dalam akan menimbulkan getaran kemesraan yang bermuara kepada kasih sayang antara keduanya. Sedangkan kasih sayang adalah buah dari pernikahan yang dilandasi dengan niat beribadah kepada Allah dalam bingkai TAQWALLAH.
Firman Allah SWT.:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum:21)
Banyak hadits yang meriwayatkan bagaimana ciuman Rasulullah kepada istri-istri beliau, dalam berbagai hal dan peristiwa, bahkan Rasulullah pernah menyempatkan mencium istrinya ketika akan berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat, sebagaimana yang disampaikan Aisyah RA.: ”Adalah Rasulullah SAW. mencium istrinya (ketika akan berangkat shalat) dan beliau tidak memperbaharui wudhu’nya” (H.R. Bukhari).
5. HENDAKLAH MEMUJI PASANGANNYA.
Jumhur Ulama’ sepakat pujian dibolehkan bahkan dianjurkan dengan syarat : untuk memberikan motivasi, pujian itu diungkapkan dengan jujur dan tulus, dan pujian itu tidak menyebabkan orang yang dipuji menjadi sombong atau lupa diri. Dan pujian itu untuk mengagungkan Allah melalui kekaguman pada kelebihan pasangannya yang merupakan karunia Allah.
Segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam. Yang perlu difahami disini adalah bahwa ada beberapa bentuk pujian yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, baik dalam hubungannya dengan Allah maupun dalam hubungannya dengan sesama hamba Allah.
Bentuk-bentuk pujian itu sebagai berikut:
• Pujian Allah kepada dirinya sendiri
• Pujian Allah kepada hamba-Nya yang taat dan istiqamah dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya.
• Pujian seorang hamba kepada Rabb-nya (Allah SWT) dalam rangka mengagungkan dan mensucikan asma-Nya.
• Pujian seorang hamba kepada sesama hamba Allah, sebagai perwujudan kekaguman kepada ke-Maha Sempurna-an Allah akan ciptaan-Nya
Dalam konteks yang terakhir inilah terletak kebolehan seorang suami memuji sang istri dan sebaliknya. Tetapi pujian itu perlu disampaikan dengan penuh kehati-hatian agar tidak menimbulkan ujub, sombong dan takabbur. Hendaknya pujian itu disampaikan masih dalam bingkai ”SEGALA PUJI HANYA MILIK ALLAH”.
6. BERSAMA-SAMA MELAKUKAN TUGAS YANG RINGAN.
Nabi melakukan tugas-tugas dirumah seperti menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sandal dan lain-lainya. Dan itu merupakan realisasi dari perintah Allah dalam firman-Nya yang berbunyi:
وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
”(saling) Tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) KEBAJIKAN dan TAQWA, dan janganlah kamu (saling) tolong menolong dalam hal DOSA dan PERMUSUHAN, Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”~ (QS. Al-Maidah:3).
Seorang suami jangan alergi dan merasa rendah diri karena malaksanakan pekerjaan istri seperti mencuci pakaian, asah-asah (mencuci peralatan dapur), dan merawat bayi atau balita yang umumnya dikerjakan oleh seorang istri. Demikian pula seorang istri jangan merasa terbebani karena harus melaksanakan pekerjaan harian yang semestinya dikerjakan oleh seorang suami.
7. UCAPAN YANG BAIK dan SIKAP SANTUN .
Bertutur kata yang baik merupakan perintah Allah yang tertulis dalam Alqur-an, sebagaimana firman Allah yang berbunyi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً .
”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”~ (QS. Al-Ahzab: 70-71)
Pada ayat tersebut digambarkan bahwa bertutur kata yang baik tidak saja menimbulkan rasa nyaman bagi lawan bicaranya, tatapi juga memberikan dampak positif bagi para pelakunya, karena dapat memberikan nilai pahala dan juga ampunan dari Allah karena kebaikan sikapnya itu. Karena itu hindari mengucap kalimat yang tidak baik bahkan menyakitkan. Kaitannya dengan itu Rasulullah SAW.-pun bersabda :
إِنَّ خَِيَارَكُمْ خِيَارُكُمْ لِأَهْلِهِمْ وَأَلْطَفُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
~“Orang yang paling baik diantaramu adalah orang yang paling baik sikapnya pada keluarga dan paling lembut dan santun pada istrinya”~ (H.R. Muslim).
Sabda Rasulullah ini berarti pula berlaku bagi para istri pada suaminya.
8. REKREASI BERDUA TANPA MEMBAWA ANAK.
Rutinitas kegiatan yang dilaksanakan dalam kehidupan rumah tangga kadang menimbulkan kejenuhan. Kondisi seseorang yang berada dalam puncak titik jenuh sering menimbulkan persoalan tersendiri, bahkan bisa menimbulkan kebosanan. Kebosanan dalam kehidupan rumah tangga dan hubungan suami istri, akan sangat sangat berbahaya bagi kelangsungan keutuhan suatu keluarga. Karena itu kejenuhan itu jangan dibiarkan berlangsung lama. Carilah segera selusinya, misalnya dengan kegiatan yang bersifat rekreatif, bahkan bisa dengan rekreasi berdua tanpa harus melibatkan atau membawa anak. Dalam rekreasi itulah bisa saling muhasabah, menilai perjalanan hidup bersama yang telah dilaluinya selama ini. Mencari sisik melik kekurangan dan kelebihan dalam mengarungi behtera kehidupan, serta mencari cara bagaimana mempertahankan yang sudah baik dan cara memecahkan persoalan yang belum teratasi serta mencari cara bagaimana cara melengkapi kekurangan. Dalam rekreasi itu pula tidak tertutup kemungkinan dapat dikektemukan cara baru untuk meningkatkan kwalitas rumah tangga
Tujuan rekreasi berdua tanpa membawa anak adalah untuk membunuh kejenuhan, mengenang kembali saat perkenalan dan untuk semakin merekatkan rasa kasih sayang diantara keduanya. Bukankah saling menyayangi adalah anjuran Rasulullah sebagaimana dalam sabdanya :
~”Sayangilah yang ada di bumi maka kalian akan disayangi oleh yang ada di langit”~ (Muhammad Rasulullah SAW).
9. MEMPUNYAI RASA EMPATI PADA PASANGANNYA.
Rasa Empati merupakan refleksi dari rasa cinta antara keduanya dan saling mencintai adalah tuntunan dan tuntutan dalam pergaulan hidup suami istri sekaligus sebagai tolak ukur kesempurnaan iman. Sabda Rasulullah SAW. :
~”Tidaklah beriman seseorang diantaramu sehingga ia mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”~ (H.R.Bukhari dan Muslim).
Maksud yang terkandung dari pengertian mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri adalah berusaha untuk bisa memberikan kepada orang lain segala yang dia inginkan untuk dirinya sendiri dan tidak memberikan kepada orang lain segala sesuatu yang ia sendiri tidak pernah mengharapkannya bahkan membencinya. Misalnya, setiap orang pasti menginginkan agar dirinya dihormati, dihargai, dimulyakan dan dicintai dan tidak mau jika ia dilecehkan, dihinakan, diremehkan, dibenci dan tidak dihargai. Cobalah berusaha agar seorang suami atau istri bisa memberikan apa yang diharapkannya itu kepada orang pasangannya terlebih dahulu seperti; menghormati, menghargai, memuliakan dan mencintainya. Dan tidak memberikan apa yang tidak pernah ia harapkan seperti; tidak melecehkan, tidak mebghinakan, tidak meremehkan dan tidak memberncinya serta jangan sampai tidak menghargainya. Maka Insya Allah, hubungan antara suami isrti itu akan harmonis karena ada empati antara keduanya
10. PERLU ADANYA KETERBUKAAN.
Jangan sampai memendam masalah hingga bertumpuk atau jangan sampai kran komunikasi suami istri tersumbat. Memendam masalah akan menimbulkan kebuntuan hati yang akan berakibat munculnya kebencian, ketidak puasan bahkan kemarahan antar suami istri, saling menyalahkan dan sulit untuk saling mengakui kesalahan dan memaafkan. Pada akhirnya ketaqwaan akan sirna dari keduanya.
Allah SWT. berfirman:
وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ . الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ . وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”~ (QS. Ali Imran: 133-135)
Semoga tulisan bisa menjadi bahan bacaan yang berarti bagi termujudnya keluarga SAKINAH, MAWADDAH dan RAHMAH. Kepada Yang saya hormati Fariq Gasim semoga ilmu yang menjadi landasan pengembangan tulisan ini, menjadi bagian dari ilmu yang bermanfaat bagi sesame dan menjadikan jalan menuju kemuliaan sejati disisi Allah bagi beliau di dunia dan di akhirat, aamiin.
*) Disarikan dari buku Lautan Cinta, Fariq Gasim, Darul Qolam, 2005. Diberi tambahan dan disajikan oleh H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud, pada penataran Calon Temanten di KUA. Kecamatan Depok Kabupaten Sleman, bulan Nopember 2010.

Rabu, 05 Januari 2011

Menggapai Derajat Muttaqin


Menggapai Derajat Muttaqin
Oleh: H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (QS. Ali Imran: 102)
Meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT dengan selalu mentaati dan menunaikan segala yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang oleh-Nya dengan penuh kesadaran, kesabaran dan keikhlasan hati karena Allah semata, merupakan tuntutan Ilahi dan keharusan bagi setiap manusia, karena dengannya setiap hamba Allah memperoleh peluang terbukanya berbagai pintu karunia Allah untuknya
Mengenai pengertian taqwa, oleh para ulama telah dirumuskan dalam beberapa definisi. Diantaranya ada yang mengatakan bahwa taqwa adalah melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Ada pula yang mengatakan bahwa taqwa adalah berlindung dan taat kepada Allah dari hukuman-hukuman-Nya. Sebagian ulama yang lain merumuskan bahwa taqwa adalah menjaga diri dari segala hal yang mengandung hukuman Allah.
Dalam pengertian yang lain, taqwa ialah menghindarkan diri dari segala sesuatu yang menjauhkan diri dari Allah. Selain itu, ada pula yang menyatakan bahwa taqwa juga berarti tata karma syariat. Taqwa pada ketaatan berarti ikhlas, dan pada maksiat berarti tidak melakukannya. Dan masih banyak definisi taqwa yang lain.
Allah SWT mensifati orang-orang yang bertaqwa, sebagaimana yang tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat kedua sampai keempat, yaitu : Mereka yang beriman kepada yang gaib, percaya pada yang gaib berarti mengiktikadkan adanya sesuatu “yang maujud” yang tidak dapat diungkap oleh pancaindera, karena ada dalil yang menunjukkan tentang hal itu, seperti adanya Allah, para Malaikat, Hari akhirat dan lain sebagainya ; yang mendirikan salat ( menunaikannya secara teratur dengan melengkapi syarat-syarat, rukun-rukun adab-adabnya ; yang menafkahkan sebagian rezeki yang Allah anugerahkan kepada mereka ;mereka yang beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya; dan mereka yang meyakini adanya hari akhir.
Kalau diperhatikan beberapa rumusan definisi tentang taqwa dan sifat-sifat orang-orang yang bertaqwa sebagaimana yang telah disebut di atas, tidak ada yang menyebutkan tentang ras, golongan, maupun status. Tidak disebutkan yang termasuk dalam kategori orang yang bertaqwa adalah mereka yang berkulit putih, sawo matang atau kulit hitam, atau mereka yang bertaqwa adalah golongan A, golongan B ataupun golongan yang lainnya, dan tidak pula dikatakan mereka yang termasuk golongan yang bertaqwa adalah yang kesehariannya memakai jubah, surban atau yang berpakaian biasa-biasa saja. Sebab, semua itu tidak termasuk dalam kriteria taqwa, sebagaimana yang menjadi ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah SWT.
Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.. “( QS. Al-Hujuarat : 13 )
Setiap orang yang beriman berkemungkinan untuk dapat mencapai derajat sebagai orang yang bertaqwa(muttaqin), yang berkedudukan sebagai orang yang paling mulia di sisi Allah SWT. Semua orang mempunyai kesempatan untuk menjadi orang yang paling mulia di sisi Allah, baik orang arab maupun non arab, orang jawa, orang cina, yang kaya dan yang miskin, yang tua ataupun yang muda, semuanya mendapat kesempatan yang samauntuk mencapai derajat muttaqin. Sebuah predikat yang paling tinggi dan mulia karena mendapat legitimasi langsung dari Allah SWT baik di dunia kini, maupun di akhirat kelak. Dan dia itu termasuk orang yang mendapat petunjuk dari Allah dan orang yang beruntung.
Derajat yang begitu mulia dan tinggi, tentu tidak akan dapat dicapai begitu saja secara cuma-cuma, tanpa disertai ilmu amal dan istiqamah. Perhatikanlah Qaulul Hukama berikut ini :
“Taqwa adalah terpadunya antara ilmu, amal dan istiqamah. Orang yang tidak tahu (bodoh) tentang perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya tidak akan menjadi orang yang bertaqwa. Orang yang berilmu (tentang perintah-perintah dan arangan-larangan Allah) yang tidak mengamalkan ilmunya itu juga tidak akan dapat menyandang predikat sebagai orang yang bertaqwa. Demikian juga orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya yang tidak istiqamah juga tidak bisa disebut sebagai orang yang bertaqwa, melainkan ia menjadi orang yang merugi dan tidak meningkat kedudukannya.”~ (Hukama)
Dengan demikian jelaslah bahwa untuk dapat menggapai derajat muttaqin maka, seorang muslim harus menguasai ilmu. Sebab, seseorang tidak akan mungkin dapat mencapai sesuatu tingkat kemuliaan tanpa didasari ilmu. Bagaimana seseorang dapat melaksanakan sesuatu kalau dia tidak tahu apa yang harus dikerjakan?. Demikian juga dengan taqwa, bagaimana seseorang akan berpredikat sebagai muttaqin, jika tidak tahu jalan menuju taqwa. Bagaimana mungkin seseorang akan melaksanakan perintah Allah jika ia tidak tahu apa yang diperintahkan oleh Allah dan teknis pelaksanaan yang berkaitan dengannya. Begitu juga sebaliknya, bagaimana seseorang akan menjauhi larangan Allah, jika ia tidak tahu apa saja yang dilarang oleh Allah. Maka pengetahuan tentang perintah dan larangan inilah yang mula-mula harus dikuasai, dan wajib hukumnya bagi setiap muslim mempelajari tentang perintah dan larangan Allah. Bahkan yang berilmu dan tidak mengamalkan ilmunya, ia tidak akan dapat mencapai derajat yang mulia di sisi Allah, melainkan ia bertambah menjauh dari Allah SWT.
Dalam suatu riwayat Rasululllah SAW menjelaskan bahwa orang yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah hidayahnya, maka orang tersebut tidak akan mendapatkan tambahan apapun dari Allah kecuali semakin jauh dari-NYA.
Adapun beberapa keutamaan bagi orang yang bertaqwa disebutkan di banyak tempat di dalam Alqur-an. Diantaranya adalah yang diuraikan sendiri oleh Allah SWT. dalam surat Ath-Thalaq sebagaimana uraian berikut ini:
Balasan bagi orang yang bertaqwa kepada Allah, maka kesalahan-kesalahannya akan terampuni dan Allah akan memberinya pahala yang besar.
Allah SWT berfirman :
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْراً
Artinya : "Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.”(QS. Ath-Thalaq : 5)
Di samping itu, orang yang bertaqwa itu juga akan mendapat kemudahan dan jalan keluar yang baik dan dianugerahi Allah rezeki dari arah tak terduga-duga. Perhatikanlah ayat-ayat berikut ini :
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Artinya :“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.“(QS. AthThalaq : 2-3)
Dan di akhir ayat selanjutnya disebutkan :
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً
Artinya : “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”(QS. Ath-Thalaq : 4)
Dan di akhirat kelak, orang yang bertaqwa itu mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah, di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan. Sebagaimana firman Allah SWT berikut ini :
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِّن مَّاء غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِن لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ
Artinya : “Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka. “(QS. Muhammad : 15)
Dari uraian ini, mudah-mudahan pembaca dapat mengambil hikmahnya, dan mengamalkan kebaikannya, sehingga benar-benar termasuk golongan orang yang bertaqwa kepada Allah SWT yang mendapatkan kemuliaan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, aamiin.

Jumat, 31 Desember 2010

Kontak Kami

Perkenalkanlah pemilik media online ini adalah H. Muh. Chaeruddin. Sehari-hari saya bertugas sebagai Penyuluh Agama Islam Fungsional Kecamatan Depok Kabupaten Sleman. Bagi yang berkeinginan menghubungi saya, dapat kontak atau tulis pesan lewat:
1. Buku Tamu Media Online ini;
2. Kotak Pesan Singkat Media Online ini juga;
3. email: http://hajichaerudin@gmail.com; atau
4. Datang ke KUA Kec. Depok. Jl. Raya Tajem km 1,5 Maguwoharjo, Depok, Sleman.

Jumat, 17 Desember 2010

CINTA DAN MENCINTAI ALLAH

CINTA DAN MENCINTAI ALLAH
Imam Ibnu Qayyim mengatakan, "Tidak ada batasan cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri; memba-tasinya justru hanya akan menambah kabur dan kering maknanya. Maka ba-tasan dan penjelasan cinta tersebut tidak bisa dilukiskan hakikatnya secara jelas, kecuali dengan kata cinta itu sendiri.
Kebanyakan orang hanya membe-rikan penjelasan dalam hal sebab-musabab, konsekuensi, tanda-tanda, penguat-penguat dan buah dari cinta serta hukum-hukumnya. Maka batasan dan gambaran cinta yang mereka berikan berputar pada enam hal di atas walaupun masing-masing berbeda dalam pendefinisiannya, tergantung kepada pengetahuan,kedudukan, keadaan dan penguasaannya terhadap masalah ini. (Madarijus-Salikin 3/11)
BEBERAPA DEFINISI CINTA:
1. Kecenderungan seluruh hati yang terus-menerus (kepada yang dicintai).
2. Kesediaan hati menerima segala keinginan orang yang dicintainya.
3. Kecenderungan sepenuh hati untuk lebih mengutamakan dia daripada diri dan harta sendiri, seia sekata dengannya baik dengan sembunyi-sebunyi maupun terang-terangan, kemudian merasa bahwa kecintaan tersebut masih kurang.
4. Mengembaranya hati karena mencari yang dicintai sementara lisan senantiasa menyebut-nyebut namanya.
5. Menyibukkan diri untuk mengenang yang dicintainya dan menghinakan diri kepadanya.
6. Kesedian berkorban untuk memenuhi keinginan yang menjadi buah hatinya dan melaksanakannya dengan pebuh keikhlasan.
PEMBAGIAN CINTA
1. Cinta ibadah
Ialah kecintaan yang menyebabkan timbulnya perasaan hina kepadaNya dan mengagungkanNya serta bersema-ngatnya hati untuk menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala larangaNya.
Cinta yang demikian merupakan pokok keimanan dan tauhid yang pelakunya akan mendapatkan keutamaan-keutamaan yang tidak terhingga.
Jika ini semua diberikan kepada selain Allah maka dia terjerumus ke dalam cinta yang bermakna syirik, yaitu menyekutukan Allah dalam hal cinta.
2. Cinta karena Allah
Seperti mencintai sesuatu yang dicintai Allah, baik berupa tempat tertentu, waktu tertentu, orang tertentu, amal perbuatan, ucapan dan yang semisalnya. Cinta yang demikian termasuk cinta dalam rangka mencintai Allah.
3. Cinta yang sesuai dengan tabi'at (manusiawi),
yang termasuk ke dalam cintai jenis ini ialah:
a. Kasih-sayang, seperti kasih-sayangnya orang tua kepada anaknya dan sayangnya orang kepada fakir-miskin atau orang sakit.
b. Cinta yang bermakna segan dan hormat, namun tidak termasuk dalam jenis ibadah, seperti kecintaan seorang anak kepada orang tuanya, murid kepada pengajarnya atau syaikhnya, dan yang semisalnya.
c. Kecintaan (kesenangan) manusia kepada kebutuhan sehari-hari yang akan membahayakan dirinya kalau tidak dipenuhi, seperti kesenangannya kepada makanan, minuman, nikah, pakaian, persaudaraan serta persahabatan dan yang semisalnya.
Cinta-cinta yang demikian termasuk dalam kategori cinta yang manusiawi yang diperbolehkan. Jika kecintaanya tersebut membantunya untuk mencintai dan mentaati Allah maka kecintaan tersebut termasuk ketaatan kepada Allah, demikian pula sebaliknya.
KEUTAMAAN MENCINTAI ALLAH
1. Merupakan Pokok dan inti tauhid
Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Sa'dy, "Pokok tauhid dan inti-sarinya ialah ikhlas dan cinta kepada Allah semata. Dan itu merupakan pokok dalam peng- ilah-an dan penyembahan bahkan merupakan hakikat ibadah yang tidak akan sempurna tauhid seseorang kecuali dengan menyempurnakan kecintaan kepada Rabb-nya dan menye-rahkan seluruh unsur-unsur kecintaan kepada-Nya sehingga ia berhukum hanya kepada Allah dengan menjadikan kecintaan kepada hamba mengikuti kecintaan kepada Allah yang dengannya seorang hamba akan mendapatkan kebahagiaan dan ketenteraman. (Al-Qaulus Sadid,hal 110)
2. Merupakan kebutuhan yang sangat besar melebihi makan, minum, nikah dan sebagainya.
Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah berkata: "Didalam hati manusia ada rasa cinta terhadap sesuatu yang ia sembah dan ia ibadahi ,ini merupakan tonggak untuk tegak dan kokohnya hati seseorang serta baiknya jiwa mereka. Sebagaimana pula mereka juga memiliki rasa cinta terhadap apa yang ia makan, minum, menikah dan lain-lain yang dengan semua ini kehidupan menjadi baik dan lengkap.Dan kebutuhan manusia kepada penuhanan lebih besar daripada kebutuhan akan makan, karena jika manusia tidak makan maka hanya akan merusak jasmaninya, tetapi jika tidak mentuhankan sesuatu maka akan merusak jiwa/ruhnya. (Jami' Ar-Rasail Ibnu Taymiyah 2/230)
3. Sebagai hiburan ketika tertimpa musibah
Berkata Ibn Qayyim, "Sesungguh-nya orang yang mencintai sesuatu akan mendapatkan lezatnya cinta manakala yang ia cintai itu bisa membuat lupa dari musibah yang menimpanya. Ia tidak merasa bahwa itu semua adalah musibah, walau kebanyakan orang merasakannya sebagai musibah. Bahkan semakin menguatlah kecintaan itu sehingga ia semakin menikmati dan meresapi musibah yang ditimpakan oleh Dzat yang ia cintai. (Madarijus-Salikin 3/38).
4. Menghalangi dari perbuatan maksiat.
Berkata Ibnu Qayyim (ketika menjelaskan tentang cinta kepada Allah): "Bahwa ia merupakan sebab yang paling kuat untuk bisa bersabar sehingga tidak menyelisihi dan bermaksiat kepada-Nya. Karena sesungguhnya seseorang pasti akan mentaati sesuatu yang dicintainya; dan setiap kali bertambah kekuatan cintanya maka itu berkonsekuensi lebih kuat untuk taat kepada-Nya, tidak me-nyelisihi dan bermaksiat kepada-Nya.
Menyelisihi perintah Allah dan bermaksiat kepada-Nya hanyalah bersumber dari hati yang lemah rasa cintanya kepada Allah.Dan ada perbeda-an antara orang yang tidak bermaksiat karena takut kepada tuannya dengan yang tidak bermaksiat karena mencintainya.
Sampai pada ucapan beliau, "Maka seorang yang tulus dalam cintanya, ia akan merasa diawasi oleh yang dicintainya yang selalu menyertai hati dan raganya.Dan diantara tanda cinta yang tulus ialah ia merasa terus-menerus kehadiran kekasihnya yang mengawasi perbuatannya. (Thariqul Hijratain, hal 449-450)
5. Cinta kepada Allah akan menghilangkan perasaan was-was.
Berkata Ibnu Qayyim, "Antara cinta dan perasaan was-was terdapat perbe-daan dan pertentangan yang besar sebagaimana perbedaan antara ingat dan lalai, maka cinta yang menghujam di hati akan menghilangkan keragu-raguan terhadap yang dicintainya.
Dan orang yang tulus cintanya dia akan terbebas dari perasaan was-was karena hatinya tersibukkan dengan kehadiran Dzat yang dicintainya tersebut. Dan tidaklah muncul perasaan was-was kecuali terhadap orang yang lalai dan berpaling dari dzikir kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala , dan tidaklah mungkin cinta kepada Allah bersatu dengan sikap was-was. (Madarijus-Salikin 3/38)
6. Merupakan kesempurnaan nikmat dan puncak kesenangan.
Berkata Ibn Qayyim, "Adapun mencintai Rabb Subhannahu wa Ta'ala maka keadaannya tidaklah sama dengan keadaan mencin-tai selain-Nya karena tidak ada yang paling dicintai hati selain Pencipta dan Pengaturnya; Dialah sesembahannya yang diibadahi, Walinya, Rabb-nya, Pengaturnya, Pemberi rizkinya, yang mematikan dan menghidupkannya. Maka dengan mencintai Allah Subhannahu wa Ta'ala akan menenteramkan hati, menghidupkan ruh, kebaikan bagi jiwa menguatkan hati dan menyinari akal dan menyenangkan pandangan, dan menjadi kayalah batin. Maka tidak ada yang lebih nikmat dan lebih segalanya bagi hati yang bersih, bagi ruh yang baik dan bagi akal yang suci daripada mencintai Allah dan rindu untuk bertemu dengan-Nya.
Kalau hati sudah merasakan manisnya cinta kepada Allah maka hal itu tidak akan terkalahkan dengan mencintai dan menyenangi selain-Nya. Dan setiap kali bertambah kecintaannya maka akan bertambah pula pengham-baan, ketundukan dan ketaatan kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dan membebaskan diri dari penghambaan, ketundukan ketaatan kepada selain-Nya."(Ighatsatul-Lahfan, hal 567)
ORANG-ORANG YANG DICINTAI ALLAH Subhannahu wa Ta'ala
Allah Subhannahu wa Ta'ala mencintai dan dicintai. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman di dalam surat Al-Ma'idah: 54, yang artinya: "Maka Allah akan mendatangkan satu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai Allah."
Mereka yang dicintai Allah Subhannahu wa Ta'ala :
1. Attawabun (orang-orang yang bertau-bat), Al-Mutathahhirun (suka bersuci), Al-Muttaqun (bertaqwa), Al-Muhsinun (suka berbuat baik) Shabirun (bersa-bar), Al-Mutawakkilun (bertawakal ke-pada Allah) Al-Muqsithun (berbuat adil).
2. Orang-orang yang berperang di jalan Allah dalam satu barisan seakan-akan mereka satu bangunan yang kokoh.
3. Orang yang berkasih-sayang, lembut kepada orang mukmin.
4. Orang yang menampakkan izzah/kehormatan diri kaum muslimin di hadapan orang-orang kafir.
5. Orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) di jalan Allah.
6. Orang yang tidak takut dicela manusia karena beramal dengan sunnah.
7. Orang yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah sunnah setelah menyelesaikan ibadah wajib.
SEBAB-SEBAB UNTUK MENDAPATKAN CINTA ALLAH Subhannahu wa Ta'ala
1. Membaca Al-Qur'an dengan memikir-kan dan memahami maknanya.
2. Berusaha mendekatkan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dengan ibadah sunnah setelah menyelesaikan ibadah yang wajib.
3. Selalu mengingat Allah Subhannahu wa Ta'ala , baik dengan lisan, hati maupun dengan anggota badan.
4. Lebih mengutamakan untuk mencintai Allah Subhannahu wa Ta'ala daripada dirinya ketika hawa nafsunya menguasai dirinya.
5. Lebih mengutamakan untuk mencintai Allah Subhannahu wa Ta'ala dan Rasulullah daripada mencintai yang selain Allah dan Rasul-Nya
6. Memahami dan mendalami dengan hati tentang nama dan sifat-sifat Allah.
7. Melihat kebaikan dan nikmat Allah yang telah diterimanya baik yang tampak maupun yang tidak tampak.
8. Merasakan kehinaan dan kerendahan hati di hadapan Allah.
9. Beribadah kepada Allah pada waktu sepertiga malam terakhir (di saat Allah turun ke langit dunia) untuk bermunajat kepadaNya, membaca Al-Qur'an , merenung dengan hati (muhasabah) serta mempelajari adab dalam beribadah di hadapan Allah kemudian ditutup dengan istighfar dan taubat.
10. Duduk dengan orang-orang shaleh yang memiliki kecintaan yang tulus kepada Allah dari kalangan para ulama dan da'i, mendengarkan dan mengambil nasihat mereka serta tidak berbicara kecuali pembicaraan yang baik.
11. Menjauhi dan menghilangkan hal-hal yang menghalangi hati dari mengingat Allah Subhannahu wa Ta'ala .
Demikian, mudah-mudahan catatan ini dapat memberikan manfaat bagi semuanya. Jika ada kekurangsempurnaan dan kesalahan mohon dilengkapi sendiri, terima kasih.
Disadur dari (kalimat mutanawwi'ah fi abwab mutafarriqah karya Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd oleh Abu Muhammad) dan diberi tambahan oleh H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud.

Rabu, 13 Oktober 2010

BERDOALAH KEPADAKU, (PASTI) AKU KABULKAN DOAMU

SAMBIL TIDUR MENDEKATKAN DIRI
KEPADA ALLAH
( Serial Taman do’a )
Oleh: H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud
Seringkali kegelisahan dialami oleh seseorang ketika akan tidur. Kegelisahan tersebut disebabkan oleh beberapa hal, antara lain ; beban pikiran yang berat, masalah ekonomi, anak, pekerjaan dan lain-lainnya. Untuk menghilangkannya banyak cara dilakukan. Adakalanya dengan cara yang benar tetapi ada pula dengan cara yang tidak benar seperti lari ke dukun misalnya.
Islam telah mengajarkan bagaimana mencari jalan keluar atau solusi yang terbaik, diantaranya adalah membiasakan berdzikir dan berdo’a ketika menjelang tidur. Do’a menjelang tidur yang diajarkan Rasulullah kepada ummatnya, yang dapat mendatangkan ketenangan dan ketentraman bathin salah satunya adalah sebagai berikut :
اَللّهُمَّ إِنِّى أَسْلَمْتُ نَفْسِى إِلَيْكَ وَوَجَّهْتُ وَجْهِى إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِى إِلَيْكَ وَالْجَأْتُ ظَهْرِى إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لاَمَلْجَأَ وَلاَمَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ أَللّهُمَّ إِنِّى آَمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِى أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِى أَرْسَلْتَ
“ Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu, aku hadapkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu serta Kusandarkan diriku kepada-Mu, penuh harap limpahan pahala-Mu kepadaku dan rasa takut akan ancaman siksa-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan melepaskan diri dari siksa-Mu, melainkan hanya kepada Engkau. Ya Allah, aku percaya kepada kitab yang telah Engkau turunkan dan kepada Nabi yang telah Engkau utus “. ( HR. Bukhari dari Barra’ bin Azib RA. ).
Kandungan dari do’a tersebut sebagai berikut:
1. ISTISLAM.
Berserah diri kepada Allah mutlak harus dilakukan oleh setiap insan beriman, karena kenyataannya manusia tidak mampu berbuat sesuatu tanpa ada bimbingan dan petunjuk Allah. Kesiapan dan kemampuan seseorang untuk melaksanakan perintah dan manjauhi larangan – Nya merupakan bukti nyata bahwa dia telah berserah diri kepada Allah SWT dalam arti sesungguhnya.
2. TAWAJJUH ILALLAH.
Menghadapkan diri kepada Allah mempunyai makna bahwa apa yang dilakukannya semuanya diperuntukkan untuk pengabdian kepada Allah.
3. TAFWIDHUL AMRI ILALLAH.
Menyerahkan segala urusan kepada Allah maksudnya adalah, bahwa segala usaha dan upaya manusia dalam kehidupan tidak akan terlepas dari kuasa Allah, karena itu setelah manusia berusaha hendaknya diikuti sikap tawakkal atau berpasrah diri kepada Allah SWT.
4. ISTI’ANAH ‘ALALLAH.
Menyandarkan diri kepada Allah artinya hanya kepada Allah-lah manusia memohon pertolongan dan tambahan kekuatan, sehingga dapat berdaya guna dan berhasil guna dalam memanfaatkan karunia Allah di dunia untuk mencapai kesempurnaan hidup di dunia sampai akhirat kelak.
5. AR – RAJA’.
Penuh harap atas limpahan pahala maksudnya bahwa setiap perbuatan yang baik diyakini pasti mendapat balasan kebaikan pula dari sisi Allah.
6. AL – KHAUF.
Rasa takut akan ancaman siksa dari Allah, maksudnya bahwa semua perbuatan yang tidak baik dan dosa yang tidak mendapatkan pengampunan-Nya, pasti akan mendapatkan balasan yang tidak menyenangkan, dan itulah yang dikatakan azab Allah.
7. ISTI’ADZAH.
Mohon perlindungan dan keselamatan dari azab dan siksa hanya kepada Allah karena tempat berlindung dan melepaskan diri dari azab dan siksa – Nya hanyalah Allah SWT.
8. ISTIQAMAH.
Pernyataan keimanan kepada kitab Alqur-an yang diturunkan kepada Rasulullah SAW dan kepada ke-Rasul-an Nabi Besar Muhammad SAW. Keimanan tersebut diwujudkan dengan kesanggupan untuk melaksanakan perintah Allah, mengikuti jejak langkah dan tauladan Rasulullah SAW. serta menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya secara ikhlash, istiqamah dan berkesinambungan.
Agar lebih sempurna, sebaiknya dilengkapi dengan bacaan lain seperti yang diajarkan Rasulullah kepada Siti ‘Aisyah RA agar melaksanakan empat perkara sebelum tidur, sebagaimana bunyi hadits barikut ini :
ياَعَائِشَةَ، لاَتَنَامِى حَتّى تَفْعَلِى أَرْبَعَةَ أَشْيَاءَ، حَتّى تَخْتِمِى الْقُرْأنَ وَحَتّى اْلأَنْبِيَاءُ وَالْمُرْسَلُوْنَ يُصَلُّوْاعَنْكِ وَحَتّى الْمُسْلِمُوْنَ وَالْمُسْلِمَاتُ أَلأَحْيَاءُ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتُ رَاضُوْنَ عَنْكِ وَحَتّى تَحُجِّى وَتَعْتَمِرِى ( رؤاه أبو نعيم عن عائشة )
“ Wahai ‘Aisyah, janganlah kau tidur sebelum melaksanakan empat perkara, sebelum mengkhatamkan Alqur-an, Para Nabi dan Rasul memberikan syafa’at kepadamu, Orang Muslim laki – laki dan perempuan, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati ridha kepadamu dan sebelum kau berhaji dan umrah “ ( HR. Abu Na’im dari ‘Aisyah RA. )
1. Menghatamkan Al – Qur’an, maksudnya adalah membaca surah Al - Ikhlas tiga kali dilanjutkan surah Al - Mu’awwidzatain dan ditutup surah Al-Fatihah.
2. Mengharapkan syafa’at para Nabi dan Rasul. Yang dimaksud adalah membaca shalawat kepada Nabi Agung Muhammad SAW, dilanjutkan shalawa kepada Nabi Ibrahim as. dan keluarganya.
3. Menggapai ridha Allah SWT. dengan cara mencari keridhaan umat Islam, baik yang masih hidup maupun yang telah meningal dunia. Maksudnya adalah mendo’akan kedua orang tua dan kaum muslimin dan muslimat menjelang tidur
رَب اغْفِرْلِى وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابِ
Tuhanku, ampunilah aku, kedua orang tuaku dan orang mukmin sampai hari kiamat nanti
4. Berhaji dan Umrah. Maksudnya adalah sebelum tidur membaca tasbih secara lengkap sebagaimana tasbihnya orang yang sedang melakukan thawaf di Baitullah, sehingga mendapatkan nilai kebaikan orang yang melaksanakan haji dan umrah.
Adapun bacaan tasbih tersebut sebagai berikut :
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ ِللهِ وَلاَ إِلهَ إِلاَّ الله ُوَالله ُأَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِّىِّ الْعَظِيْمِ
“Maha Suci Allah, segala puji hanya milik Allah, Tidak ada tuhan selain Allah dan Allah itu Maha Besar. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali ( hanya anugerah ) Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung”.
Jika umat Islam selalu membaca do’a dan berdzikir setiap akan tidur sebagaimana yang dituliskan di atas, maka dapat dipastikan hidupnya akan tentram dan damai, karena selalu berada dalam bingkai keimanan yang sempurna, tetap optimis dan percaya diri serta husnuzhzhan kepada Allah SWT. yang telah menciptakan dan memelihara dirinya.

Minggu, 10 Oktober 2010

MEMAHAMI HAKEKAT IBADAH

MEMAHAMI HAKEKAT IBADAH
Oleh : H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud
Dalam menjalani kehidupan yang sangat singkat ini, hendaknya setiap insane beriman selalu berusaha menjernihkan hati, meningkatkan tafakkur tentang tujuan hidup yang hakiki, yakni lebih meningkatkan ketaqwaan dan pengabdian kepada Allah, baik dalam bentuk kesalehan ritual maupun sosial. Dengan cara inilah manusia dapat mengisi kehidupan ini dengan nilai-nilai yang semestinya, serta mendapatkan arti hidup yang sesungguhnya. Dan senantiasa berusaha untuk menjalani misi kehidupan yang sesungguhnya tanpa mengenal lelah, yaitu dengan nilai-nilai ketaqwaan kepada Allah swt.
Islam telah mensyari’atkan beberapa bentuk ibadah ritual yang seharusnya selalu dilakukan oleh setiap orang. Ada ibadah yang sifatnya harian, mingguan, bulanan atau tahunan dan ada pula bentuk ibadah yang wajib dilakukan sekali seumur hidup. Ibadah yang sifatnya harian misalnya shalat wajib lima waktu, sedangkan yang bersifat mingguan misalnya shalat Jum’at sebagaimana yang dilakukan oleh umat Islam selama ini. Adapun yang bersifat bulanan atau tahunan misalnya puasa di bulan Ramadhan, shalat Idul Fitri, shalat Idul Adha. Dan ada pula ibadah yang wajib sekali dalam seumur hidup, yaitu ibadah haji bagi yang mampu. Selain daripada itu, masih banyak bentuk-bentuk ibadah lain yang sifatnya tidak terikat oleh waktu, seperti halnya beri’tikaf, berdzikir, membaca Al-Qur’an, berbuat baik, beramal sholeh dan lain sebagainya yang bersifat ibadah ritual maupun ibadah sosial.
Allah SWT tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah SWT berikut ini:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Q.S. Adz-Dzariyat: 56)
Lantas apa sesungguhnya hakekat ibadah itu? Sementara banyak orang yang masih beranggapan bahwa yang dinamakan ibadah hanyalah mengerjakan shalat, zakat, puasa dan haji. Sedangkan kegiatan yang lain mereka masih ragu untuk mengatakan sebagai ibadah.
Dalam hal ini, Syaikhul Islam Ibnu Ta’miyah memberikan pandangan tentang ibadah secara luas dan dalam. Menurutnya, arti ibadah menurut bahasa adalah sikap taat dan tunduk secara maksimal. Sedangkan dalam ibadah terdapat suatu unsur yang sangat penting dan dominan, yaitu unsur cinta yang fitri, yang dalam hal ini tanpa unsur emosi yang menyertai. Hakikat ibadah yang menjadi tujuan daripada penciptaan manusia memang sulit dan berat untuk diwujudkan. Sebagaimana pandangan Ibnu Taimiyah berikut ini:
”Ibadah adalah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi oleh Allah SWT, baik yang berupa perkataan maupun perbuatan, yang zhahir maupun yang batin.”
Pada hakekatnya ibadah yang diperintahkan oleh Allah itu meliputi makna merendah diri secara khusu’, khudhu’ dan merunduk dengan penuh kecintaan yang mendalam kepada-Nya. Karena substansi dan esensi cinta itu sesungguhnya adalah pengabdian dan pengorbanan secara tulus ikhlas. Kedalaman dan kesempurnaan cinta itu hanya patut diberikan kepada Allah SWT semata. Kecintaan kepada yang selain Allah, harus diletakkan dan diposisikan di bawah kecintaan kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman :
قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri , kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan NYA". (QS. At-Taubah : 24)
Setiap amal perbuatan yang dilakukan oleh manusia untuk keperluan hidupnya, dan usaha-usaha yang dikerjakan untuk kepentingan keluarganya dapat bernilai ibadah demikian pula perwujudan sarana-sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Para pegawai, para karyawan, buruh, para petani, para pedagang, pengusaha dan para pelajar dapat menjadikan pekerjaan dan segala aktivitasnya itu sebagai ibadah selama mau berpegang teguh pada ketentuan-ketentuan syari’at, yaitu :
1. Setiap pekerjaan dan aktivitas yang dilakukan harus disertai dengan niat yang suci, yaitu niat yang sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT. Makan dan minum dapat bernilai ibadah bila diniatkan agar dirinya sehat dan kuat sehingga dapat mengabdi dan beribadah kepada Allah. Bekerja ynag halal dapat bernilai ibadah bila dilakukan karena Allah, untuk mencari nafkah buat diri, istri, anak dan keluarganya sehingga mampu bertahan hidup untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT.
2. Setiap pekerjaan dan aktivitas yang dilakukan tidak melanggar batas-batas yang ditentukan dalam syari’at, tidak berlaku zalim, tidak disertai menipu-menipu, tidak berdusta, tidak merampas hak-hak orang lain dan tidak berkhianat.
3. Setiap pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan, hendaklahdilaksanakan dengan baik, sungguh-sungguh dan profesional dengan tetap menjaga sportivitas dan akhlaqul karimah. Rasulullah SAW bersabda :
”Sesungguhnya Allah menyukai seseorang diantara kamu yang ketika mengerjakan sesuatu perkara, dilakukan dengan tekun dan teliti.” (HR. Baihaqi)
4. Pekerjaan dan aktivitas yang dilakukan itu bukan termasuk yang dilarang dalam islam, seperti perdagangan minuman keras, prostitusi, melakukan riba, dan hal-hal lainnya yang dilarang menurut islam. Bekerja dan beraktivitas pada hal-hal yang dialrang dalam agama tersebut bukan termasuk ibadah walaupun diniatkan untuk mencari nafkah buat anak dan istri, untuk beramal dan bersedekah dari hasil karyanya itu.tetapi semua itu merupakan kedurhakaan dan kemaksiatan serta kekejian yang berdosa besar.
5. Semua pekerjaan dan aktivitas yang dilakukan jangan sampai melalaikannya dari mengingat Allah SWT. Disebutkan dalam Al-Qur’an, Allah SWT, berfirman :
رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ
”Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.”(QS. An-Nuur : 37)
Dan firman Allah SWT
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
”Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.”(QS. Al-Munafiqun : 9)
Setiap aktivitas yang dilakukan dengan tetap memperhatikan hal-hal tersebut, maka apa yang dilakukan itu, bermakna dan bernilai ibadah. Sehingga dengan demikian semua aktifitas tersebut telah memenuhi panggilan Allah, sesuai dengan tujuan penciptaan manusia dan jin, yaitu untuk mengabdi dan beribadah kepada-Nya.
Dengan demikian maka jelaslah bahwa ibadah atau menyembah kepada Allah SWT adalah tugas pokok dalam kehidupan manusia di dunia ini. Ibadah dalam arti yang luas baik yang berdimensi ritual mahdhah maupun ibadah sosial, yang dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan syari’at, secara tulus ikhlas demi mengabdi kepada Allah dengan penuh kecintaan kepada-Nya.
Namun demikian pengabdian dan ibadah yang telah dilakukannya itu bukanlah demi kepentingan Allah, melainkan untuk kepentingan diri mereka sendiri. Betapapun seluruh manusia dan jin itu berpaling dan tidak mau menyembah kepada Allah, berpesta pora dan tenggelam dalam kedurhakaan dan kemaksiatan, Allah tidak akan rugi, dan tidak akan mengurangi keagungan dan kemuliaan-Nya sedikitpun. Karena Dia adalah Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Kuasa. Kemaha muliaan dan kekuasaan-Nya tidak tergantung pada ketaatan dan kebaktian hamba-Nya.
Pujian manusia yang dipanjatkan kepada Allah tidak akan menambah kekuasaan-Nya.dan keingkaran manusia atas Allah juga tidak akan mengurangi kekuasaan-Nya. Sebab, Allah yang memiliki segalanya, Allah Maha Kaya, Allah tidak membutuhkan hamba-Nya, namun hamba-Nyalah yang akan membutuhkan kemurahan-Nya.
Disebutkan di dalam hadits shahih muslim, Allah SWT berfirman :
”Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kamu tidak akan bisa sampai kepada membahayakan Aku, lalu kamu akan memberi bahaya kepada-Ku. Dan kamu tidak akan bisa sampai memberi manfaat kepada-Ku, lalu kamu akan memberikan manfaat kepada-Ku. Wahai hamba-Ku, seandainya kamu semua dari yang paling awal hingga yang paling akhir, manusia maupun jin seluruhnya sangat taqwa(kepada-Ku), maka yang demikian itu tidak akan menambah karajaan(kekuasaan)-Ku sedikitpun. Demikian pula sebaliknya, wahai hamba-Ku, seandainya kamu semua dari yang paling awal hingga yang paling akhir, manusia maupun jin seluruhnya sangat durhaka, maka yang demikian itu pun tidak akan mengurangi kerajaan(kekuasaan)-Ku sedikitpun.”(HR. Muslim)
Allah adalah Dzat yang Maha Pengasih, Pemurah dan Penyayang yang tidak akan menyuruh hamba-Nya berbuat sesuatu, melainkan di dalamnya ada kebaikan dan kemaslahatan bagi hamba itu sendiri.
Setiap perbuatan yang dilakukan manusia baik ayng baik maupun yang buruk tidak berimplikasi apapun kepada Allah, tetapi semua itu, akan kembali dan diperhitungkan buat manusia itu sendiri.
مَنْ عَمِلَ صَالِحاً فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاء فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ
”Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya.”(QS. Fushilat : 46)
Demikianlah, semoga tulisan ini dapat menjadi bahan bacaan yang berguna bagi keselamatan bersama menuju keridhaan Allah. Semoga kita mampu menjalani dan mengisi sisa kehidupan ini dengan pengabdian dan kebaktian kepada Allah SWT secara tulus ikhlas karena cinta kepada-Nya. Sehingga kita selalu mendapatkan rahmat, anugerah dan ridha-Nya, bahagia di dunia dan di akhirat, aamiin, aamiin, aamiin, yaa mujiibas-saa_iliin…….

Kamis, 07 Oktober 2010

KETELADANAN NABI IBRAHIM AS


KETELADANAN NABI IBRAHIM AS

(Sebuah Kajian Tafsir Tematis Surah An-Nahl: 120-123)

Oleh : H Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud

Allah SWT. berfirman :

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتاً لِلّهِ حَنِيفاً وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ * شَاكِراً لِّأَنْعُمِهِ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ * وَآتَيْنَاهُ فِي الْدُّنْيَا حَسَنَةً وَإِنَّهُ فِي الآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ * ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ *

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),~ (lagi) yang mensyukuri ni`mat-ni`mat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. 120. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), ~ Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. ~ Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif." dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. An-Nahl: 120-123).
Di tengah-tengah hiruk pikuknya orang sibuk mencari idola untuk tokoh panutan, banyak orang mencari idola atau tokoh panutan berdasarkan kesamaan profesi, kesamaan bakat, kesamaan suku, kesamaan asal sekolah dan lain-lain. Nilai-nilai subyektifitas dalam mencari idola lebih banyak mewarnai diri pribadi pencari idola, sehingga kadangkala tokoh yang dijadikan idola itu sebenarnya adalah orang yang sangat tidak pantas dijadikan idola atau tokoh panutan. Bahkan ada juga yang dijadikan idola hanya tokoh kartun atau tokoh dalam dongeng belaka.
Bagi umat Islam sebenarnya tidaklah sulit untuk mencari idola atau tokoh panutan karena umat Islam sudah mendapatkan gambaran nyata tentang orang yang patut dijadikan idola, yakni Nabi Agung Muhammad SAW. Karena Nabi Muhammad SAW. memang merupakan tokoh dunia sepanjang masa yang diakui ketokohannya berdasarkan analisa ilmiah sebagaimana ditulis oleh Michael H. Hart dalam bukunya Seratus Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah di Dunia. Michael H. Hart secara obyektif telah memilih Nabi Muhammad SAW. sebagai tokoh nomor satu berdasarkan analisa dan argument yang obyektif dan ilmiah.
Jika Rasulullah Muhammad SAW. sebagai idola kita umat Islam maka pada tulisan ini saya akan memperkenalkan IDOLA SANG IDOLA, yakni NABI IBRAHIM AS. Sebagai idola dari Nabi Muhammad SAW.
Siapakah Nabi Ibrahim AS. itu?. Banyak catatan menuliskan bahwa beliau adalah seorang Nabi generasi ke enam setelah Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Nuh, Nabi Hud, dan Nabi Shaleh. Nabi Ibrahim mempunyai silsilah sebagai berikut : Ibrahim bin Aazar (Tarih) bin Tahur bin Saruj bin Rau’ bin Falij bin Aabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh AS. Beliau lahir di Faddam A’ram yang masuk dalam wilayah Kerajaan Babylonia. Negeri Babylon pada masa itu diperintah oleh seorang raja yang zhalim yakni Namrud bin Kan’aan bin Kus bin Nuh AS.
Sejak masa muda, Nabi Ibrahim terkenal gigih mempertahankan keyakinannya terutama dalam hal konsep KETUHANAN. Dan beliau sejak muda sudah mendakwahkan ajaran tauhid kepada umat manusia yang dijumpainya. Nabi Ibrahim merupakan nenek moyang dari Nabi Muhammad SAW. dari garis keturunan Nabi Ismail AS., dan inti ajaran pokok Nabi Ibrahim AS. kemudian ditetapkan oleh Allah SWT. sebagai inti pokok ajaran Nabi Muhammad SAW. yakni agama Islam. Karena itulah wajar kalau kemudian Nabi Muhammad SAW. menjadikannya sebagai IDOLA-nya, karena itu maka penulis menyebutnya sebagai IDOLA SANG IDOLA.
Ada beberapa pokok ajaran Islam yang merupakan napak tilas Nabi Ibarahim yang oleh Allah diabadikan sebagai bagian dari SYARI’AT ISLAM, diantaranya adalah PELAKSANAAN IBADAH HAJI DI BAITULLAH dan PENYEMBELIHAN HEWAN QURBAN.
Sebagai muslim yang taat kepada Allah SWT. tentu akan selalu ingat peristiwa besar bersejarah yang pernah terjadi pada diri Nabi Ibrahim as. dan putranya Ismail as, yang lulus dalam ujian bakti dari Allah SWT. yakni pada saat menghadapi perintah Allah SWT. agar mengorbankan puteranya Ismail yang sangat dicintainya. Ismail as. juga mengikhlaskan dirinya dikorbankan demi menyambut perintah Allah kepada ayahnya. Keduanya; dengan jiwa besar dan pemikiran yang bijak tetap mentaati perintah Allah karena terdorong oleh keinginan untuk mendahulukan dan mementingkan iman serta cintanya kepada Allah SWT. daripada dorongan kecintaan pada dirinya atau hasrat mencari kepuasan duniawi.
Firman Allah SWT dalam Al-Qur”an :

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتاً لِلّهِ حَنِيفاً وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ * شَاكِراً لِّأَنْعُمِهِ.....

“ Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang pemimpin ( yang dapat diteladani ) lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali dia tidaklah termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah, yang selalu bersyukur atas nikmat Allah . . . . . ” (An-Nahl ; 120 – 121)
Ayat di atas memberikan gambaran tentang kepribadian seorang tokoh masa lalu yang pantas untuk dijadikan teladan. Ada lima kepribadian Nabi Ibrahim yang pantas diteladani yaitu :
1. Pemimpin yang ideal ( Ummah )
Ibrahim AS. yang peristiwa pengorbanannya diabadikan dalam sejarah Islam, dinyatakan oleh Allah sebagai bapaknya para nabi dan diangkat menjadi Imam ( pemimpin ) umat manusia, baik imam dalam kehidupan spiritual, rumah tangga maupun dalam masalah sosial kemasyarakatan. Firman Allah swt :

إِنِّّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ....

“ …Sesungguhnya Kami telah mengangkat engkau (Ibrahim) sebagai Imam (pemimpin) bagi seluruh ummat manusia …“ (QS. Al-Baqarah: 124)
Sebagai Imam, Ibrahim as. memiliki keistimewaan dibanding Nabi dan Rasul lainnya. Oleh karena itu, Rasulullah saw. sebagai seorang rasul pilihan menjadikan Ibrahim teladan baginya.
Firman Allah SWT dalam surah Al-Mumtahanah ayat 6

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَمَن يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Sesungguhnya pada mereka itu ( Ibrahim dan puteranya ) ada teladan yang baik bagimu; ( yaitu ) bagi orang yang meng-harap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian. Dan barang siapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha terpuji” (QS. Al-Mumtahanah: 6)
2. Orang yang qanit
Ibrahim merupakan sosok manusia yang sangat patuh kepada tuhannya. Apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. dipatuhi , segala perintah-Nya dilaksanakan dan larangan-Nya pun dijauhi, seluruh hidupnya hanya diperuntukkan mengabdi dan berbakti kepada Allah SWT. semata.
Pengakuan Ibrahim AS. dinyatakan dalam firman-Nya yang berbunyi :

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“ Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. “ ( QS. Al-An’am: 162 )

لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“ Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang mula pertama berserah diri ( kepada Allah ).” ( Al-An’am: 163 )
3. Orang yang hanif
Sebagai seorang yang hanif, Ibrahim senantiasa berpegang pada kebaikan dan tidak pernah tidak melakukan kebaikan. Dalam perjalanannya mencari kebenaran yang hakiki, dia mencermati peristiwa yang terjadi di alam semesta, menghayati, menganalisa kemudian menyimpulkannya. Akhirnya kebenaran yang dicari didapatkan, sebagaimana pernyataan Ibrahim dalam Alqur-an :

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفاً وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“ Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cendrung kepada agama yang benar; dan aku bukanlah termasuk diantara orang yang memperselutukan Tuhan ( Allah ). “ ( Al-An’am; 79 )
4. Orang yang teguh pendirian
Sejak muda Ibrahim as telah menunjukkan semangatnya untuk berpegang pada prinsip hidup yang benar dan bersedia berkurban dalam membela keyakinannya, walaupun harus menerima hukuman yang sangat berat dan menyakitkan dirinya. Karena keteguhan pendiriannya menentang kebiasaan dan tradisi orang tua dan masyarakat itulah beliau diusir dari negerinya sendiri.
Ibrahim berpendirian bahwa pandangan ketuhanan orang tuanya, tatacara peribadatan dan penghambaan masyarakat di sekitarnya adalah tidak benar dan bertentangan dengan akal sehat serta menyimpang dari martabat kemanusiaan; karena itulah maka kemudian Ibrahim AS. mengembara ke penjuru negeri tanpa membawa bekal kecuali hanya keyakinan akan kebenaran ilahi.
Firman Allah SWT :

وَحَآجَّهُ قَوْمُهُ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللّهِ وَقَدْ هَدَانِ وَلاَ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلاَّ أَن يَشَاءَ رَبِّي شَيْئاً وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْماً أَفَلاَ تَتَذَكَّرُونَ

Ibrahim berkata ( kepada kaumnya ) : “ Apakah kalian hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk tentang itu. Dan aku tidak pernah takut kepada ( malapetaka dari ) sesembahan yang kamu persekutukan dengan Allah; kecuali jika Allah memang menghendaki malapetaka itu harus terjadi (pada diriku).” ( Al-An’am 80 )
5. Orang yang pandai bersyukur
Imannya yang mantap, ibadahnya yang khusyu’ terpadu dengan kesabaran yang luar biasa telah menghasilkan apa yang menjadi idaman hidupnya yakni keluarga sakinah mawaddah dan rahmah. Kelahiran dua orang putra di usia senjanya yakni Ismail dan Ishak AS. disambut dengan rasa syukur dan keistiqamahan, menyebabkan keluarga Ibrahim menjadi cermin keluarga masa depan. Ibrahim as. mengungkapkan rasa syukurnya sebagaimana tersebut dalam Alqur-an :

الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاء

“ Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku dihari tua (ku) Ismail dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanku, benar – benar Maha Mendengar (permohonan hamba-Nya).” ( QS. Ibrahim: 39 )
Dengan lima kepribadian tersebut, Allah memberinya beberapa anugerah tambahan sebagaimana firman Allah SWT. berikut ini :

... اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ * وَآتَيْنَاهُ فِي الْدُّنْيَا حَسَنَةً وَإِنَّهُ فِي الآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ * ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ *

“ . . . . Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia, dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk diantara orang yang shaleh. Kemudian Kami wahyukan kepadamu: “ Ikutilah millah (agama) Ibrahim seorang yang hanif”, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah” ( QS. An-Nahl ; 121 – 123 )
Ayat tersebut menjelaskan bahwa ada lima kemulyaan bagi Nabi Ibrahim as yakni : Sebagai tokoh pilihan, terbimbing ke jalan yang lurus, kebahagiaan hidup di dunia dan kesempurnaan hidup di akhirat serta ajarannya diikuti semua Nabi dan Rasul sesudahnya, bahkan Rasulullah, seorang Rasul pilihan menyatakan bahwa ajaran yang disampaikan kepada ummatnya adalah millah Ibrahim.
Millah Ibrahim artinya ajaran Ibrahim, sebagaimana telah dinyata-kan dalam jejak langkah hidupnya yang menggambarkan tentang betapa kemantapan iman dan kepribadiannya, kesungguhan pengabdian dan pengorbanannya, serta keteguhan melaksanakan perintah Allah dalam membela serta menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.
Sebagai umat Muhammad, kita harus mampu meneladani Nabi Ibrahim AS. baik dalam hal ketekunan beribadah, tanggung jawab dalam rumah tangga maupun keikhlasan dalam berkurban sebagai bukti ketaatan dan rasa syukurnya kepada Allah SWT.
Tidak sedikit Allah memberikan nikmat kepada umat manusia, baik berupa kesehatan, penghidupan dan tempat tinggal serta harta yang berlimpah, sehingga mereka tidak mampu menghitungnya, terutama nikmat yang terbesar yakni nikmat Iman dan Islam. Kedua nikmat itulah yang paling menentukan sejahtera dan bahagianya manusia di kemudian hari. Allah SWT. berfirman :

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ * فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ * إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ *

“ Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorban lah.” ( Al-Kautsar 1 – 3 )
Sebagian napak tilas Nabi Ibrahim dan keluarganya yang kemudian menjadi bagian dari syari’at Islam adalah ibadah haji dan kurban. Pada saat saudara kita sedang melaksanakan ibadah haji di tanah suci, marilah kita imbangi dengan semangat berkurban baik dalam bentuk penyembelihan hewan kurban maupun dalam bentuk lain, seperti bantuan kemanusiaan bagi saudara kita yang sedang ditimpa musibah gempa dan gelombang pasang tsunami di Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara.
Memiliki kepedulian sosial kepada sesama merupakan bukti adanya rasa cinta kasih kepada orang lain, sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as yang kemudian di tindak lanjuti oleh Nabi Besar Muhammad SAW.
Bagi muslim yang taat menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesama, Allah akan menjadikan jiwanya tenang dan tentram, kemudian Allah akan memasukkan mereka ke dalam golongan hamba – hamba-Nya yang shalih dan masuk ke dalam surga yang dijanjikan Allah.
Allah SWT. berfirman :

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ * ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً * فَادْخُلِي فِي عِبَادِي * وَادْخُلِي جَنَّتِي *

“ Hai Jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba – hamba-Ku ( yang shalih ) dan masuklah ke dalam surga-Ku.” ( Al-Fajr 27 – 30 )
Selanjutnya marilah kita berdoa’a semoga keteladanan Nabi Ibrahim AS. yang menjadi TELADAN dari SANG TELADAN dapat memberikan manfaat bagi upaya peningkatan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT. serta memberikan dorongan yang kuat agar bisa hidup lebih istiqamah. Semoga Allah senantiasa memberikan tambahan kekuatan kepada kita sehingga dapat meneladani Nabi Ibrahim as. dan keluarganya serta dapat berperan aktif melanjutkan risalah Rasulullah SAW.